-As long as you’re still breathing, what’s the matter?-

Menu

Home

Contact

My Journey

Achievements

Pendidikan Non-Formal, Kunci Bakat Anak Berkembang Optimal

Oct 10, 2020 | Blog Competition

Rahasia Masa Kecil

Lahir, tinggal, dan besar di tempat yang sama, membuat saya mau tak mau mengingat banyak sekali kenangan di benak terkait kampung halaman tercinta ini. Terkadang, ada pula kejadian yang telah terlupa, tetapi diingatkan kembali oleh sanak saudara. Salah satu hal yang terkenang hingga kini adalah kisah yang diceritakan ibu saya. Saya baru mengetahui kisah ini setelah beranjak remaja, tetapi ternyata kejadian ini telah berlangsung bertahun-tahun sebelumnya.

Suatu hari, Ibu mengatakan bahwa ada rahasia masa kecil yang harus ia sampaikan pada saya. Dengan penuh keterkejutan, saya pun menajamkan telinga. Saya pikir saya akan mendapatkan fakta bahwa saya merupakan putri yang tertukar, atau memiliki orang tua konglomerat yang dengan murah hatinya mengajari saya hidup sederhana, atau hal-hal lainnya yang tak terbayangkan. Tentu saja apa yang Ibu ceritakan berbeda dari yang saya pikirkan.

Beliau malah bertanya kepada saya. “Vi, kamu ingat, dulu, kenapa mau sekolah di TK itu?”

Tentu saja saya menggeleng. Ibu pun lanjut menjelaskan. Dulu, saat masih kecil, orang tua saya bingung memasukkan saya ke sekolah mana. Pasalnya, abang dan kakak saya sudah masuk ke sebuah sekolah swasta yang lumayan mahal. Kalau saya dimasukkan ke situ juga, rasa-rasanya terlalu dipaksakan.

Setelah hunting sana-sini, ternyata mereka mendapat informasi bahwa ada sebuah sekolah baru berkurikulum bagus dengan harga terjangkau. Saya pun diboyong ke sekolah tersebut. Ibu saya, sembari tertawa, mengatakan sangat mudah memasukkan saya ke sekoloah tersebut. Saat ditanya mengapa, ibu saya berkata, “Di situ banyak mainannya. Mulai dari jungkat-jungkit, ayunan, sampai luncuran. Kamu langsung mau.”

Owalah, sebegitu teganya baginda ratu dan paduka raja memilih pendidikan anak hanya dari mainannya saja. Menjadi angkatan kedua di sekolah tersebut, saya pun sukses menamatkan TK dan SD. Namun tenang saja, sebenarnya, orang tua saya juga peduli, kok dengan pendidikan saya. Ternyata, selain punya kurikulum yang cukup memuaskan, tempat saya bersekolah pun gencar mengembangkan bakat anak didiknya.

Masa Kecil yang Malu-Maluin Tapi Ngangenin

Baru bukan berarti abal-abal. Saya yakin itu. Buktinya, sekolah saya waktu itu kerap meminta anak murid untuk mengembangkan bakat di luar materi akademis. Dulu, saat masih TK, saya pernah mengikuti lomba senam sekota. Namanya masih anak-anak, maklum saya sudah lupa-lupa ingat. Selain itu, beranjak SD, saya dan teman-teman saya pun sering menari di berbagai event.

Dulu, guru TK saya pernah bilang, saya berubah dari pemalu jadi ‘jempol’. Artinya, anak kecil yang dulunya malu pun bisa berubah dan jadi berani menunjukkan serta mengasah bakatnya. Saya bersyukur dulu sempat ikut yang begituan. Mental saya sudah diasah sejak kecil sehingga saya terbiasa tampil di depan umum. Sayang sekali saat itu ekonomi orang tua belum mencukupi untuk membawa saya ke sanggar atau tempat pendidikan non-formal lain. Padahal, bakat anak dapat dikembangkan secara cepat dan terarah melalui pendidikan non-formal.

Pentingnya Pendidikan Non-formal

Dari dulu, kita selalu diagung-agungkan bahwa anak pintar adalah anak yang nilai rapornya memuaskan, hebat di perlombaan eksakta, dan lain sebagainya. Tak jarang orang tua menganggap bahwa jika nilai rapor anak hanya rata-rata, maka anak tersebut kurang cerdas. Hal tersebut sebenarnya salah besar. Kita tahu sendiri, tidak ada satu pun orang yang sempurna di dunia ini. Oleh karena itu, coba lihat sisi lain anak. Apa yang dia sukai? Apakah hal tersebut berbau seni? Jika jawabannya adalah ‘iya’, maka sudah sepantasnya membawa anak untuk menempuh pendidikan tambahan, yaitu pendidikan non-formal.

Pendidikan non-formal ini penting untuk dilakukan. Dengan mengikuti kelas tersebut, minat dan bakat anak pun jadi terasah. Karena keterampilan terasah, maka anak pun bisa semakin produktif. Sejak kecil, anak sudah terbiasa untuk belajar hal baru di luar pendidikan formal. Hal ini membuat anak ketika dewasa nanti akan lebih berani untuk mencoba hal baru.

Berbicara tentang mencoba hal baru, tentunya pendidikan non-formal juga melatih keberanian anak. Sama seperti saya yang awal-awal sekolah malu-malu kucing tetapi lambat laun berubah menjadi tak tahu malu (enggak selebay ini, kok), maka anak akan tumbuh lebih percaya diri serta kreatif.

Selain itu, tahukah sobat bahwa pendidikan non-formal membantu anak untuk menyeimbangkan kerja otak? Kita tentu tahu bahwa gerakan wajib belajar yang dicanangkan pemerintah bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan anak di bidang pendidikan. Anak dijejali berbagai informasi tentang sejarah, hitung-hitungan, bahasa, dan lainnya. Dengan ikut pendidikan non-formal, keseimbangan otak anak akan terasah. Otak kiri bekerja giat saat anak belajar di sekolah, sementara itu otak kanan akan mulai unjuk gigi (atau unjuk otak, ya?) saat anak mengikuti kelas non-formal.

Sejak Kapan Harus Memberi Anak Pendidikan Non-Formal?

Sebenarnya, sejak saat anak lahir hingga berusia 6 tahun, anak masuk ke masa periode emas. Di masa ini, perkembangan kecerdasan anak (dari 0-4 tahun) bertumbuh 50%. Setelah itu, perkembangan kecerdasannya pun bertumbuh 30% lagi (usia 4-8 tahun). Lalu, sisa 20%-nya terjadi pada usia 8 hingga 18 tahun. Bahkan, UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pun menyebutkan bahwa pendidikan anak usia dini dilakukan sejak anak berusia 0 hingga 6 tahun.

Artinya, sejak usia belia, bahkan masih sangat kecil, anak sudah bisa mengembangkan dirinya. Akan tetapi, ingat, semua kembali lagi tergantung pada kemauan dan kemampuan anak. Jangan karena anak hanya bersenandung sesekali, kita langsung memaksa anak ikut kursus menyanyi. Tanyakan kepada anak apakah ia ingin mengembangkan bakatnya. Ajak anak dengan cara yang mudah dimengerti.

Pendidikan Non-Formal Ada Apa dan di Mana Saja?

Dari tadi kita berbicara ngalor-ngidul tentang pendidikan non-formal. Tahu tidak, apa saja, sih, yang termasuk pendidikan non-formal? Kelompok bermain, taman bermain anak, lembaga pelatihan, kelompok belajar, lembaga kursus hingga sanggar termasuk beberapa contoh di antaranya. Jika sudah tahu jenis-jenisnya, maka langkah selanjutnya adalah ketahui keinginan anak.

Jangan lupa untuk menentukan tujuan kursus. Ingin agar anak-anak tidak hanya bermain  game? Hal tersebut tidak salah. Namun, jika ada tujuan yang lebih mendalam, tentu akan lebih baik. Misalnya, jika anak suka menari, maka kita ikutkan anak ke kursus tari supaya anak bisa menyalurkan bakatnya. Tentu orang tua bangga, dong, kalau anaknya bisa tampil walau di acara kecil-kecilan?

Jika sudah yakin akan mengikutsertakan anak ke kursus apa, maka kini saatnya untuk berpikir lebih dalam. Tempat kursus tentu bertebaran di sekitar kita. Harga dan metode pengajarannya pun berbeda-beda. Untuk itulah, penting bagi orang tua untuk memilih tempat pendidikan non-formal terbaik agar bakat anak berkembang optimal.

Pendidikan Non-Formal, Kunci Anak Berkembang

Orang tua mengarahkan, anak yang menentukan. Biarkan masa kecil anak dipenuhi dengan berbagai kegiatan positif yang membuatnya bahagia. Masa kecil adalah kenang-kenangan terindah yang dimiliki setiap orang. Manfaatkan masa-masa emas ini dengan membimbing anak, mengarahkan minat serta bakatnya. Sehingga suatu hari nanti, mereka dapat berkata, “Aku sukses seperti sekarang karena ada Ayah dan Ibu!”

About Me

Gadis kelahiran 2000 yang menjadi cancer survivor sejak usia 17 tahun. Karena tak tahu hingga kapan akan bertahan, ia pun mulai meninggalkan jejak-jejak berupa tulisan. Seluruh isi blog ini merupakan buah pikirannya.

What Are You Looking For?

What’s in My Blog?

Day by Day

Member of:

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *