-As long as you’re still breathing, what’s the matter?-

Menu

Home

Contact

My Journey

Achievements

Meningkatkan Kualitas Kesehatan di Pedalaman secara Hakiki dengan Klinik Asiki

Oct 4, 2020 | Blog Competition

Ratusan Kilometer Kutempuh Demi Berobat

Udara malam yang dingin menusuk tulang berembus pelan kala saya menjejakkan kaki ke atas sebuah bus. Kendaraan yang saya tumpangi ini membawa penumpang dari Kota Pontianak menuju perbatasan Entikong, Kalimantan Barat, lantas terus melaju hingga tiba di Kuching, ibu kota Serawak, Malaysia.

Tujuan saya pergi ke negeri tetangga kala itu bukanlah untuk liburan, tetapi demi menjalani pengobatan. Karena ibu kota provinsi Kalimantan Barat itu tak punya rumah sakit yang bisa menangani pasien kanker, saya terpaksa berobat di Malaysia—tempat terdekat dengan Pontianak yang punya penanganan medis sangat baik.

Walaupun saat itu kondisi tubuh saya begitu lemah karena sakit parah, saya masih mencoba bertahan. Jarak sejauh 347 kilometer saya tempuh meski itu artinya saya harus terduduk kaku selama lebih dari 6 jam di perjalanan. Walaupun tubuh terasa remuk-redam karena duduk tidak nyaman dalam jangka waktu lama, saya pasrah. Apalah artinya semua itu? Hal terpenting, saya bisa berobat.

Saya sepatutnya bersyukur karena masih bisa mendapatkan pengobatan yang layak. Meskipun begitu, ada hal yang sangat mengganjal di hati saya. Mengapa kota saya yang merupakan sebuah ibu kota provinsi, ternyata masih sangat tertinggal di bidang kesehatan? Jika di ibu kota provinsi saja pelayanan kesehatan masih belum mumpuni, bagaimana dengan saudara-saudari kita yang tinggal di pedalaman?

Masalah Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Berdasarkan penuturan dari WHO (World Health Organization), sehat merupakan suatu keadaan sejahtera yang meliputi fisik, mental, hingga sosial. Hal ini tertuang pula pada UU No 36 Tahun 2009 yang membahas tentang kesehatan. Dengan memiliki fisik, mental, serta lingkungan sosial yang sehat, maka setiap orang pun bisa hidup dengan produktif.

Pertanyaannya, apakah kita sudah berhasil menyelenggarakan layanan kesehatan yang menyeluruh? Jawabannya adalah, sayang sekali, belum. Meskipun memiliki luas wilayah hingga 1,9 juta kilometer persegi, nyatanya fasilitas kesehatan serta tenaga medis belum tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia. Persebaran puskesmas, rumah sakit, dokter, hingga perawat masih menumpuk di kota-kota besar.

Ada beberapa masalah mengenai pelayanan kesehatan di daerah pedalaman yang harus diatasi. Masalah teknis yang kerap dihadapi yakni transportasi menuju pedalaman yang sulit serta kurangnya tenaga medis. Masalah lain yang juga menghadang adalah mengenai perilaku masyarakat dalam hal berobat. Masyarakat Indonesia kental dengan kepercayaan terhadap hal-hal mistis ataupun yang berbeda dari ilmu kedokteran. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, juga menyatakan bahwa dokter belum menjadi pilihan utama masyarakat saat berobat.

Kementerian Kesehatan pada tahun 2019 menyebutkan bahwa hingga akhir tahun 2018 terdapat 2.813 unit rumah sakit di seluruh Indonesia. Ternyata, dari jumlah tersebut, sebanyak lebih dari separuhnya berada di Pulau Jawa. Bahkan, jika diadu dengan negara lain, tingkat kesehatan Indonesia masuk peringkat ke-97 dari 167 negara.

Maka dari itu, permasalahan kesehatan turut dibahas dalam rapat kerja nasional tahun ini. Rakerkesnas tahun 2020 tersebut membahas 5 pokok masalah, seperti angka kematian ibu dan bayi, pengendalian stunting, pencegahan serta pengendalian penyakit, germas, juga tak lupa tentang tata kelola sistem kesehatan.

Berpartisipasi dalam Meningkatkan Kesehatan Masyarakat

Masalah kesehatan harus menjadi prioritas negara. Dengan kondisi yang sehat, kita pasti bisa melakukan aktivitas dengan lebih produktif. Saya sendiri yang terkena kanker sejak duduk di bangku SMA ini merasakan dampak yang jelas dari kondisi fisik yang sakit. Sebelum sakit, bisa dibilang prestasi belajar saya termasuk memuaskan. Akan tetapi, ketika kondisi kesehatan menurun, saya tidak bisa lagi fokus untuk melakukan kewajiban saya sebagai seorang pelajar, yakni belajar. Buntutnya, nilai pelajaran saya pun menurun.

Coba sobat bayangkan jika yang sakit adalah orang-orang yang produktif, orang-orang yang bersusah payah mengais rezeki demi menghidupi keluarganya. Mungkin seorang ayah yang harus menafkahi anak-anaknya, mungkin pula seorang gadis yang hidup sendiri dan tak punya siapa-siapa untuk bersandar, atau mungkin juga seorang anak kecil yang masih punya masa depan begitu panjang. Bisa saja siapa pun tanpa terkecuali.

Dengan fasilitas kesehatan yang merata, tentu kesejahteraan hidup seluruh masyarakat Indonesia akan tercapai. Perbaikan tingkat kesehatan ini ditujukan terutama bagi masyarakat yang berada di lingkungan 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Menilik Peraturan Presiden No 63 Tahun 2020 yang berbicara tentang penetapan daerah tertinggal (terhitung untuk periode tahun 2020 hingga 2024), maka ada sebanyak 62 kabupaten yang masih dianggap sebagai daerah tertinggal. Daerah tersebut mayoritas berada di provinsi Sulawesi Tengah, Maluku, Papua, Papua Barat, hingga Sumatera Utara.

 

Kewajiban untuk meningkatkan kesehatan di pedalaman tidak hanya dilimpahkan hanya kepada pemerintah. Seluruh masyarakat harus dilibatkan guna mencapai tujuan tersebut. Andaikata kita tidak berprofesi sebagai tenaga medis yang terjun langsung membantu masyarakat, kita tetap bisa membantu sesuai dengan profesi kita saat ini. Misalnya, seorang blogger bisa menulis artikel yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat. Lebih bagus lagi jika kita bisa bergabung menjadi anggota organisasi yang bertujuan meningkatkan kesehatan warga di wilayah yang kurang terjangkau. Ataupun jika kita tidak sempat melakukan hal itu, berdonasi juga dapat membantu orang-orang yang membutuhkan.

Salah satu perusahaan yang fokus berkontribusi dalam hal menunjang fasilitas serta pelayanan kesehatan masyarakat di pedalaman adalah KORINDO. Sudah tahukah sobat tentang perusahaan Korindo?

Didirikan pada tahun 1969, perusahaan ini awalnya berfokus dalam pengembangan hardwood (jenis kayu yang diperoleh dari pohon berdaun lebat dan lebar). Korindo lalu mengembangkan plywood (papan material yang tersusun dari beberapa lapis kayu) serta veener (lembaran kayu yang terbuat dari kayu gelondongan) pada tahun 1974, lalu fokus pada kertas koran (1984), perkebunan kayu (1993), hingga pada akhirnya pada 1995 sampai saat ini fokus dalam bidang perkebunan kelapa sawit.

KORINDO memiliki visi untuk mewujudkan bisnis berkelanjutan sekaligus berkomitmen terhadap pembangunan negeri. Beberapa kegiatan yang dilakukan KORINDO yakni menciptakan peluang usaha bagi masyarakat guna mengurangi kesenjangan ekonomi, membantu fasilitas pendidikan anak-anak, hingga menyediakan pelayanan kesehatan. Perusahaan ini telah diakui atas sumbangsihnya yang bermanfaat bagi perkembangan ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan di Indonesia. Salah satu bukti nyatanya, Korindo menghadirkan klinik yang diberi nama Klinik Asiki.

 

Semenjak Ada Klinik Asiki, Tingkat Kesehatan pun Meninggi

Menggandeng KOICA (Korea International Cooperation Agency), Klinik Asiki kokoh berdiri di Kabupaten Boven Digoel, Papua. Sebagai informasi, kabupaten ini merupakan kabupaten yang paling timur di Indonesia. Artinya, Kabupaten Boven Digoel berbatasan langsung dengan negara tetangga kita, Papua Nugini. Pemberian nama Klinik Asiki dikarenakan klinik tersebut terletak di Kampung Asiki, sebuah kampung di pedalaman Papua yang masih terbelakang dari segi infrastruktur.

Adapun sebelum Klinik Asiki hadir, kasus kematian ibu di daerah tersebut akibat melahirkan cukup tinggi. Penyebabnya selain layanan medis masih minim, juga diperparah dengan kebiasaan masyarakat setempat yang melahirkan di luar klinik. Padahal, kita tahu sendiri, melahirkan di luar rumah sakit atau klinik sangat membahayakan kondisi ibu serta bayi tersebut. Peralatan tidak memadai, tidak ada kontrol dari orang-orang yang kompeten di bidangnya, sekaligus lokasi yang tidak steril menyebabkan proses kelahiran terancam gagal.

Setelah Klinik Asiki hadir sejak September 2017, kondisi kesehatan masyarakat setempat pun meningkat. Klinik berluas 1.100 meter persegi tersebut bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Segala pelayanan kesehatan yang dilakukan di Klinik Asiki juga tidak perlu biaya. Artinya, semua warga di sana dapat mengakses pelayanan kesehatan tanpa terkecuali. Upaya KORINDO untuk mewujudkan kesehatan yang baik untuk sesama terbukti berhasil. Terhitung saat ini terdapat lebih dari 10.000 peserta yang telah merasakan dampak positif dari kehadiran Klinik Asiki.

 

Fasilitas Tanpa Batas Meski dalam Keterbatasan

Jika mendengar kata ‘klinik’, terlebih lagi ‘klinik di perbatasan’, apa yang sobat pikirkan? Bangunan kecil yang kumuh dengan pelayanan seadanya? Jika imajinasi sobat seperti itu, maka bisa dibilang apa yang sobat pikirkan berbeda jauh dari kenyataan. Klinik Asiki punya berbagai fasilitas yang modern dan lengkap.

klinik yang telah terkategori sebagai klinik modern ini memiliki ruang rawat jalan, ruang rawat inap, ruang bersalin, perawatan bayi maupun perinatologi (pelayanan kesehatan bagi bayi baru lahir yang berusia antara 0-28 hari), IGD, ruang bedah minor, ruang USG, farmasi, dan fasilitas-fasilitas lain yang pasti akan terus ditambah. Tak lupa juga, terdapat fasilitas ambulans yang dapat mengantar-jemput pasien dari dan ke lokasi klinik. Sarana dan prasarana ini dibentuk tak lain guna mempermudah Klinik Asiki dalam menjalankan prioritas utamanya.

 

Prioritas Utama Klinik Asiki

  1. Mengembangkan sistem JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) melalui pelayanan kesehatan gratis.
  2. Menurunkan angka kematian bagi ibu hamil, ibu melahirkan, serta bayi baru lahir. Programnya berupa peningkatan pelayanan kesehatan bagi ibu dan balita serta pelaksanaan program KB (Keluarga Berencana).
  3. Melakukan perbaikan gizi masyarakat dengan memberikan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) bagi warga yang kurang gizi.
  4. Melakukan pengendalian terhadap penyakit baik yang menular atau tidak. Pelayanan ini meliputi imunisasi.
  5. Melakukan peningkatan pelayanan kesehatan primer melalui program mobile doctor. Masyarakat pun bisa melakukan konsultasi kesehatan dengan lebih mudah dan cepat.
  6. Meningkatkan kualitas lingkungan kerja sehingga lebih aman dan nyaman.
  7. Melakukan penanggulangan bencana juga krisis kesehatan.
  8. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Selain memiliki berbagai fasilitas, Klinik Asiki pun berhasil membuat program mobile service yang menjangkau seluruh kampung terpencil di Kabupaten Boven Digoel. Sejak pertama kali diluncurkan, terhitung layanan ini telah menyentuh 6 kampung yang masing-masing tersebar di Distrik Jair, Distrik Subur, serta Distrik Ki. Dengan adanya layanan ini, maka akses kesehatan masyarakat lebih dimudahkan.

 

Klinik Asiki yang Menorehkan Prestasi

Meskipun terletak di pelosok negeri, Klinik Asiki berhasil menorehkan berbagai prestasi. Buktinya, pada 15 Agustus 2019 lalu, Klinik Asiki diberi penghargaan untuk kategori puskesmas dari BPJS Kesehatan karena telah berkomitmen dalam memberi pelayanan terbaik untuk masyarakat. Keberhasilan Klinik Asiki menjadi klinik terbaik kedua dari 6.800 klinik yang berpartisipasi membuktikan bahwa fasilitas kesehatan tak hanya bisa sukses jika dibuka di kota besar.

Keberhasilan Klinik Asiki juga terbukti sejak tahun 2017. Dua tahun berturut-turut, Klinik Asiki meraih predikat sebagai klinik terbaik seantero Papua serta Papua Barat. Tentunya seluruh anggota yang berperan terhadap keberlangsungan Klinik Asiki termotivasi untuk terus menjadi lebih baik lagi.

Hidup Nyaman di Pedalaman Berkat Klinik Asiki

Perusahaan KORINDO, menjadi contoh bagi kita untuk bisa membantu memberdayakan kondisi kesehatan masyarakat. Tidak hanya melalui pemikiran, tetapi juga melalui perbuatan. KORINDO aktif melayani hingga ke pelosok negeri, tempat di mana kesehatan masih menjadi hal langka. Seperti oasis di tengah padang gurun, mari kita jamah pedalaman yang masih sulit mendapat akses kesehatan.

Sehat warganya, sehat pula negaranya. Ingat, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Oleh karena itu, agar jiwa setiap masyarakat bisa kuat, upayakan agar tubuh bisa sehat. Lakukan yang terbaik demi membangun negeri. Semoga tulisan ini setidaknya dapat menyadarkan kita bahwa pasti ada di suatu tempat, orang-orang yang masih membutuhkan uluran tangan.

 

Referensi:
korindo.co.id
korindonews.com
korindofoundation.com
prosperity.com/rankings

About Me

Gadis kelahiran 2000 yang menjadi cancer survivor sejak usia 17 tahun. Karena tak tahu hingga kapan akan bertahan, ia pun mulai meninggalkan jejak-jejak berupa tulisan. Seluruh isi blog ini merupakan buah pikirannya.

What Are You Looking For?

What’s in My Blog?

Day by Day

Member of:

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *