Meraih Mimpi yang Berapi-Api di Sela-Sela Kemoterapi Bersama ASUS OLED

Kisah Masa Kecil

Tangan mungil itu sibuk menggerakkan pena ke kiri dan ke kanan, merangkai kata demi kata. Ia tak peduli walaupun saat itu tulisannya masih acak-acakan—baik dari bentuk huruf yang masih berantakan hingga ke substansi tulisan yang masih perlu banyak dibenahi. Tertuang seluruh ide yang terlintas di benaknya, walau lebih banyak berbentuk cuplikan-cuplikan cerita yang tak selesai.

Ketika belum memasuki taman kanak-kanak, ia sudah mampu membaca dan menulis. Saat duduk di bangku sekolah dasar, hampir setiap sore ibunya mengajaknya mengunjungi taman bacaan yang dekat dengan rumah. Jaraknya tak lebih dari 200 meter. Di dalam taman bacaan yang ukurannya tak terlalu besar itu, terdapat ribuan buku yang berjejer rapi. Matanya berbinar. Buku demi buku pun ia lahap. Seiring waktu berlalu, ia bahkan sudah familier dengan urutan buku-buku di rak taman bacaan itu. Dampak dari terlalu sering mengunjungi tempat tersebut.

Gadis kecil itu perlahan mulai bertumbuh besar. Kecintaannya pada dunia kepenulisan juga berbanding lurus. Berkenalan dengan dunia teknologi, di usianya yang kesebelas tahun, ia pun iseng membuat blog gratisan. Isinya bermacam-macam, mulai dari karya fiksi, cerita sehari-hari, hingga tips seputar kehidupan.

(Tulisan di masa kecil.)

Sempat terlintas di benaknya tentang masa depannya. Tentang apa yang ingin ia lakukan ketika sudah dewasa nanti. Tentang cita-cita yang ingin diraihnya. Tentang impian terpendam yang mau untuk diwujudkan.

Namun, menara harapan yang dibangunnya runtuh seketika. Pada usianya yang ketujuh belas, di saat ia sedang sibuk-sibuknya bersekolah dan memoles diri menjadi remaja yang aktif, ia justru harus berhadapan dengan penyakit mematikan: kanker.

Dunia Berubah 180° Ketika Kanker Menyerang

Gadis yang kuceritakan dalam kisah di atas adalah diriku sendiri. Aku tak pernah menduga, di usia belia, aku justru harus didiagnosis kanker. Mulanya, pada pertengahan tahun 2017, aku menyadari hal aneh pada diriku: ada sebuah benjolan di leher. Seriusan? Benjolan apaan, tuh? Ya kali, masa’ aku tumbuh jakun? Secara, aku ini perempuan, gitu. Wanita tulen.

Awalnya, leherku ini terasa sakit saat aku menolehkan kepala. Ke kiri, sakit. Ke kanan, juga sakit. Karena masalah utama ini, ayahku pun membelikan obat herbal. Katanya, obat itu digunakan untuk mengobati sakit pada leher. Ajaibnya, usai meminum obat tersebut beberapa kali, nyeri di leher benar-benar sirna. Akan tetapi, benjolan misterius itu tetap ada.

(Benjolan di leher yang awalnya tak berwarna lama-kelamaan jadi kemerahan, bahkan bernanah.)

Setelah langkah pertama selesai dilakukan, aku pun hanya berdiam diri, melihat situasi akan seperti apa ke depannya. Dua bulan berlalu, benjolan masih nangkring di leher. Selama dua bulan itu, gejala aneh lain mulai muncul di tubuh: setiap malam aku selalu demam tinggi, ditambah nyeri yang teramat sangat di bagian belakang tubuh.

Karena urgensi menghilangkan rasa nyut-nyutan sudah semakin tinggi, kami sekeluarga memutuskan untuk mencari jawaban dari sang ahli. Berbekal keberanian dan uang beberapa ratus ribu, aku pun dibonceng menuju dokter. Setibanya di ruang praktik, dokter menanyakan beberapa hal, lalu memintaku untuk melakukan biopsi guna mengetahui benjolan aneh apa yang bersemayam di leherku.

Dua hari usai biopsi, hasil pun keluar. Hasilnya hanya berupa secarik kertas, tetapi isi kertas itu memporak-porandakan hidupku. Aku divonis menderita limfoma hodgkin, salah satu jenis kanker darah.

Kalau di lagu Balonku, ‘hatiku sangat kacau’ usai meletusnya balon hijau, maka hatiku juga ikut-ikutan kacau gara-gara kanker. Saat itu, yang kupikirkan bukan soal kematian yang mendekat, tetapi justru mengenai biaya berobat yang tak mampu kujangkau.

Aku terlahir dari keluarga sederhana. Masa-masa sulit sudah pernah kami lalui. Ekonomi kami pernah sampai pada tahap untuk beli beras saja susah. Biaya pendidikan sekolahku selalu menunggak. Ketika musim liburan tiba, aku selalu menghabiskan hari-hari di rumah. Saat teman-temanku sibuk berceloteh tentang jalan-jalan ke luar kota, bahkan ke luar negeri, aku hanya tersenyum dan membisu. Hiburanku berkutat di rumah saja.

Saat aku duduk di bangku SMA—tepatnya, saat kanker kurang ajar itu datang—ekonomi kami mulai sedikit membaik. Meskipun orang tuaku harus bangun subuh untuk berjualan kopi di pasar tradisional, akan tetapi keuangan kami sudah tiba di tahap di mana kami tak perlu khawatir soal akan makan apa esok hari.

Walaupun keuangan mulai merangkak naik, dana belum mencukupi untuk membiayai pengobatan kankerku yang ditaksir mencapai ratusan juta. Maka dari itu, selama dua tahun lamanya, aku hanya diobati dengan obat herbal.

Selain itu, aku juga sangat bergantung pada obat pereda nyeri. Pasalnya, rasa sakit yang kualami akibat kanker benar-benar disturbing. Aku tidak bisa fokus belajar. Nilai-nilaiku di sekolah menurun. Aku yang dikenal langganan juara kelas dari SD sampai SMA, sempat terlempar keluar dari jajaran tiga besar. Yang menjadi perhatianku saat itu bukanlah soal peringkat, tetapi mengenai ilmu yang tak mampu kuserap 100% karena terganggu oleh sakit yang mendera.

Babak Baru dalam Hidup: Pengobatan Medis Dimulai

Dua tahun dengan cepat berlalu. Aku masih berkutat dengan kanker. Kondisiku naik turun layaknya menaiki roller coaster. Terkadang, tubuhku bisa diajak untuk bekerja sama. Aku bisa beraktivitas layaknya orang biasa. Namun, sering juga aku sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa. Walaupun begitu, keinginanku untuk menimba ilmu tetap tinggi. Aku melanjutkan studi di universitas negeri yang terletak di kampung halamanku.

Pada Februari 2019 lalu, aku baru saja naik ke semester dua. Suatu hari, aku berhasil mewakili universitasku untuk mengikuti suatu perlombaan nasional. Sebelum berangkat ke Jakarta, aku sudah siap sedia dengan obat-obatan seperti obat demam dan pereda nyeri.

Lomba tersebut diadakan selama 5 hari berturut-turut. Hari pertama dan kedua, kami dibekali dengan berbagai macam workshop. Hari ketiga adalah hari perlombaan, di mana kami harus mempresentasikan start up yang (akan) kami buat. Sementara itu, di malam harinya, kami latihan menari topeng, salah satu jenis tarian tradisional khas Malang, untuk ditampilkan di hari awarding lomba. Hari keempat adalah hari jalan-jalan. Usai bertempur habis-habisan di hari sebelumnya, kami dibawa ke Malang. Tak lupa, di malam hari, kami melakukan gladi resik untuk penampilan spesial kami.

(Mendengarkan workshop yang membuka wawasan.)

(Mempresentasikan materi lomba.)

(Menikmati liburan di Kota Malang.)

(Gladi resik untuk penampilan tari topeng.)

Awalnya, semua berjalan lancar. Aku memang sempat demam di malam hari, tetapi obat menjadi penyelamat. Pada hari perlombaan, aku juga bisa menampilkan yang terbaik, bahkan mendapat komentar positif dari panelis lomba.

Namun, kelancaran itu tak berlangsung lama. Di hari terakhir, tubuhku mulai menunjukkan gejala aneh lainnya: kaki kiriku mendadak sakit. Dalam hati aku sedikit panik. Haruskah aku memberi tahu panitia bahwa aku sakit? Bagaimana dengan penampilan tari yang sudah kami persiapkan susah payah? Tentu saja formasinya akan jadi berantakan, sebab ada beberapa bagian di mana kami menari berpasangan. Terlebih lagi, posisi menariku terletak di paling depan, menjadi patokan bagi barisan belakang.

Demi kelancaran acara, terlebih lagi aku juga tidak berani menyampaikan kondisiku, akhirnya aku pun menahan nyeri di kaki sambil menari. Setelah tarian selesai, acara langsung berlanjut ke pengumuman pemenang. Kami semua berdiri di panggung, harap-harap cemas apakah nama akan disebutkan.

Dari 32 peserta yang beradu di tingkat nasional, hanya dipilih 10 peserta terbaik untuk menjadi pemenang. Satu per satu nama diumumkan. Aku mulai gelisah, sebab namaku belum juga disebutkan. Semakin lama, kemungkinan semakin tipis. Hingga akhirnya dua peserta lagi tersisa, kami diminta untuk maju ke bagian depan panggung. Lampu sorot datang dan pergi, seakan-akan ingin bermain dengan kami.

Hingga akhirnya lampu sorot itu berhenti di atasku.

Aku masih tak percaya ketika namaku disebutkan. Aku berhasil! Emosiku meletup-letup, bercampur dengan tangis bahagia. Rasa sakit di kaki seketika sirna. Para peserta saling berpelukan, memberikan ucapan selamat, sekaligus menyemangati satu sama lain yang masih belum beruntung pada ajang perlombaan ini.

(Penyerahan hadiah secara simbolis.)

Kebahagiaan hanya sementara. Ketika kami sudah tiba di kamar hotel, aku segera melepas sepatuku, dan mendapatkan kejutan: aku baru menyadari kakiku bengkak. Bukan, ini bukan bengkak yang normal. Namun, kakiku membesar dari paha bagian atas hingga ke telapak kaki. Ada apa, ini?

Keesokan harinya, aku pulang ke Pontianak membawa dua kabar sekaligus: kabar bahagia karena aku sudah berhasil memenangkan perlombaan, tetapi juga membawa kabar buruk karena kondisi kakiku yang sangat parah. Selama perjalanan pulang, aku berjalan terseok-seok. Berbagai pikiran berkecamuk di benakku. Apakah ini ada hubungannya dengan kankerku?

Semenjak kakiku bengkak, aku tak bisa beraktivitas dengan leluasa. Jangankan untuk pergi kuliah, aku saja sudah kesulitan untuk sekadar berjalan ke kamar mandi yang jaraknya hanya beberapa meter dari kamarku. Hadiah perlombaan yakni jalan-jalan ke Jepang pun terpaksa hangus. Sementara itu, hari-hariku kuhabiskan di rumah. Ayahku mencoba membeli berbagai obat herbal, tetapi semuanya sia-sia.

Tak terasa, dua bulan berlalu. Hingga akhirnya kondisiku semakin melemah, barulah kami memutuskan untuk mengambil tindak medis. Dengan bantuan dana dari keluarga besarku, serta tabungan keluarga yang tidak seberapa, aku memulai kemoterapi pertamaku pada bulan Mei 2019. Aku pun drop out dari universitas, fokus pada pengobatan.

Permainan Nasib

Semenjak pertengahan 2019, aku akhirnya mulai perang dengan kanker. Mual, rambut rontok, semua sudah kulalui. Aku tak peduli, yang penting tubuh harus sehat lagi! Hingga akhir 2019, jadwal kemoterapi tersisa dua kali lagi. Setelah itu, seharusnya aku terbebas dari kanker. Ya, seharusnya. Sebab, ternyata semua tak berjalan sesuai rencana.

Pada akhir 2019, aku melakukan PET Scan, suatu teknik pemindaian menggunakan mesin canggih untuk mengetahui persebaran kanker di dalam tubuh. Anehnya, bukannya lenyap, kankerku justru bertambah banyak! Dokter yang merawatku bahkan jadi sangat khawatir. Beliau menyarankanku untuk melakukan empat kali kemoterapi dosis tinggi disertai dengan transplantasi sumsum tulang.

Pertempuran bertambah sengit. Untuk membiayai pengobatanku yang mencapai setengah miliar rupiah, keluargaku pun menggalang dana besar-besaran. Sebelumnya, aku memang tak pernah bercerita tentang penyakitku kepada orang lain. Jadi, saat teman-teman sekolah dan guru-guruku mengetahui hal tersebut, mereka semua terkejut. Untungnya, bantuan berdatangan dari berbagai kalangan. Dana akhirnya terkumpul. Aku bisa segera berobat.

Tepat pada April 2020, pengobatanku pun selesai. Aku kembali melakukan PET Scan dan divonis bersih dari kanker. Bahagia? Tentu! Aku segera mencoba menata kembali hidup. Langkah pertama adalah dengan mulai kuliah lagi.

Masalahnya, nasib sepertinya ingin bermain-main denganku. Genap enam bulan setelah aku dinyatakan bebas dari penyakit laknat itu, tubuhku kembali merasakan gejala yang serupa dengan gejala misteriusku beberapa tahun lalu. Aku demam lagi, disertai nyeri di berbagai area tubuh.

Untuk memastikan kondisiku, pada bulan Oktober 2020, aku pun kembali melakukan PET Scan. Walaupun kala itu pandemi sedang melanda, aku tetap berangkat menuju Jakarta. Apa daya, pemeriksaan hanya bisa dilakukan di ibu kota. Dan, voila! Tepat sekali dugaanku. Kankerku kembali lagi.

Karena kekurangan dana, aku pun lagi-lagi hanya berobat menggunakan herbal. Mau bagaimana lagi? BPJS dari pemerintah bahkan tak bisa menanggung obat kanker yang harus kugunakan. Pengobatanku kali ini ditaksir mencapai miliaran rupiah. Mau dapat uang dari mana, coba?

Lagi-lagi, kehidupanku seakan berulang. Aku menggunakan herbal, berharap bisa sembuh. Sepertinya aku terlalu naif, tak berkaca pada kejadian sebelumnya. Ya, namanya juga tak punya pilihan.

November 2021, kankerku bertambah parah. Kaki kiriku sakit lagi. Aku bahkan hanya bisa bertahan beberapa belas menit dalam posisi duduk maupun berdiri. Selebihnya? Aku hanya rebahan di atas kasur. Selain itu, perutku juga besar sebelah. Usut punya usut, setelah melakukan CT scan, ternyata aku mengalami pembesaran hati. Tidak hanya itu, kankerku sudah menyebar hingga ke paru-paru dan tulang.

Berkat bantuan dari perguruan tinggi tempatku menimba ilmu, serta teman-teman yang kembali mem-posting berita penggalangan danaku, akhirnya saat ini aku bisa mulai berobat. Semoga kali ini pengobatanku berjalan lancar dan aku bisa sembuh selamanya dari kanker!

Ketika Sakit Menerpa, Aku Tak Hanya Terdiam Saja

Awalnya, ketika aku mulai kemoterapi, aku meninggalkan seluruh kehidupanku. Karena tidak kuliah lagi, bisa dibilang 24 jam kuhabiskan hanya di rumah. Waktu kugunakan untuk hal-hal yang tidak penting, seperti menonton drakor dan anime, membaca komik, dan bermain game. Sungguh tidak ada produktif-produktifnya sama sekali.

Beberapa bulan berlalu, aku mulai berkontemplasi. Apa gunanya hidupku jika terus seperti ini? Sudah jadi pengangguran, penyakitan, malas-malasan, lagi. Aku membayangkan diriku hanya jadi beban orang tua, beban masyarakat, beban negara.

Aku sendiri tak yakin, akan seperti apa jadinya masa depanku. Dulu, ketika duduk di bangku SMA kelas 3, aku memberanikan diri untuk mengikuti beasiswa yang diselenggarakan stasiun televisi ternama bersama brand cat kaleng yang bukan kaleng-kaleng, berkolaborasi dengan belasan mitra universitas swasta. Walaupun saat itu aku sering sakit-sakitan, dalam hati aku berharap bisa menempuh pendidikan tinggi dengan biaya serendah-rendahnya.

Tujuh puluh calon penerima beasiswa diadu secara offline di ibu kota. Akhir tahun 2017, aku ditemani ibuku pun berangkat ke Jakarta, tidur menumpang pada sanak saudara yang tinggal di Tangerang. Hanya beberapa hari saja aku di sana, berkonsentrasi penuh belajar supaya bisa lolos tes tertulis dan wawancara. Pada hari H, aku mengerahkan seluruh kemampuanku. Alhasil, aku berhasil mendapatkan beasiswa tersebut, bahkan menjadi salah satu peserta dengan nilai tes tertinggi yang kemudian mendapatkan penghargaan berupa subsidi transportasi. Sayangnya, aku tidak mengambil beasiswa tersebut, sebab rincian persyaratannya ternyata kurang sesuai dengan harapanku.

(Aku nomor 4 dari kiri, berfoto dengan beberapa penerima beasiswa lain.)

Perjuanganku berburu beasiswa tidak berhenti sampai di situ. Aku kembali mencari beasiswa. Pilihanku tertuju pada salah satu universitas swasta yang berlokasi di Jakarta. Persyaratannya bahkan sangat mudah. Aku hanya perlu mengisi formulir, menulis esai, dan mengirimkan berkas raporku. Percaya diri dengan nilai rapor yang cukup tinggi, ditambah lagi kecintaanku dalam menulis, aku tak merasa terbebani saat mengikuti beasiswa yang satu ini. Lagi-lagi, dunia seakan berpihak padaku. Aku berhasil meraih beasiswa penuh di universitas tersebut. Walaupun demikian, karena kondisiku mendadak parah, aku tidak jadi mengambil beasiswa tersebut.

Meskipun pada akhirnya aku berkuliah di universitas negeri di kotaku lewat jalur SBMPTN, akan tetapi jiwa ‘berburu beasiswa’ tetap menggelora. Diam-diam, saat masih semester satu, aku mendaftar beasiswa yang diselenggarakan oleh bank swasta berlogo biru. Beasiswa tersebut bahkan jauh lebih menggiurkan dibandingkan dua beasiswa yang sebelumnya kutolak. Beasiswa kali ini tidak hanya menanggung biaya studi, tetapi juga membekali muridnya dengan laptop, biaya tiket pesawat menuju kota tempat studinya, bahkan uang saku bulanan. Teman-temanku yang sebelumnya sudah bergabung di beasiswa ini merasa sangat puas. Bagaimana aku tidak ngiler, coba?

Beruntung, lagi-lagi aku berhasil lolos tes tertulis dan wawancara. Bahkan, anehnya, saat medical check up dilakukan, aku juga berhasil lolos tes. Beasiswa sudah di depan mata. Aku rela ‘berbelot’, bersiap meninggalkan almamaterku kala itu. Bahkan, aku sudah menandatangani kontrak perjanjian beasiswa. Tinggal menunggu tanggal keberangkatan saja.

Permainan nasib tidak berhenti sampai di situ. Seperti yang sudah kukatakan, pada tahun 2019 kondisiku mendadak bertambah parah. Dengan berat hati, aku membatalkan beasiswa lagi. Terhitung sudah tiga kali aku membatalkan beasiswa. Kenapa selalu tidak jodoh, sih? Apa ini semua karena aku terlalu ngebet untuk mendapat beasiswa? Kini, jangankan beasiswa. Kuliah saja sudah terbengkalai.

Mengingat kembali perjuanganku dulu yang sangat serius demi meraih pendidikan terbaik, aku merasa diriku yang malas itu benar-benar tak termaafkan. Maka dari itu, aku pun memantapkan hati: meskipun hanya di rumah saja, bukan berarti aku hanya bisa bersantai. Dibantu dengan canggihnya teknologi, aku bisa bereksplorasi. Aku harus menjadi versi terbaik dari diriku sendiri.

Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali bangkit. Aku reuni dengan hobi lamaku yang sempat kutinggalkan, yakni menulis. Tidak lagi menggunakan secarik kertas dan pena—seperti yang kulakukan saat aku masih kecil, tetapi menggunakan teknologi. Bermodalkan domain website yang sama persis dengan namaku serta hosting murah meriah, aku pun memulai perjalanan menulisku.

Berangan-Angan Setinggi Awan untuk Memiliki ASUS OLED

Tak terasa, saat artikel ini dibuat, aku sudah berada di hari terakhir tahun 2021. Sejak aku fokus kembali untuk blogging, tidak terasa pula sudah puluhan penghargaan kepenulisan aku raih. Sakit kanker tak menghambatku untuk berkarya. Justru, penyakit ini menjadi pelecut bagiku untuk terus menelurkan tulisan.

Aku aktif mengikuti lomba menulis, berusaha mengasah sense of writing yang kumiliki. Selain merasa tertantang untuk membuktikan diri, tak dapat dimungkiri bahwa aku memang tergiur dengan hadiah lomba yang biasanya keren-keren abis. Ketika menang, aku senang bukan main. Hadiah lomba pun masuk ke pundi-pundi, meski ujung-ujungnya semua hadiah juga dialokasikan untuk biaya pengobatan kankerku.

Menulis artikel di blog tak semudah yang dibayangkan. Pertama, ide di benak sudah pasti harus ada. Kedua, kita harus punya kemampuan meramu kalimat menjadi sebuah tulisan yang menarik untuk dibaca. Ketiga, tulisan juga harus berbobot, oleh karena itu proses pencarian referensi juga sudah wajib hukumnya untuk dilakukan. Keempat, tulisan tanpa gambar ibarat sayur tanpa garam. Meramu infografis maupun mencari foto-foto pendukung membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Untuk membuat satu artikel saja, aku membutuhkan waktu berjam-jam hingga berhari-hari, tergantung kepada kelancaran proses menulisku kala itu.

(Koleksi sertifikat hasil memenangkan perlombaan. Sayang sekali, terkadang ada perlombaan yang tidak memberikan sertifikat kepada peserta. Padahal, aku termasuk pecinta sertifikat, haha…)

Cerita tentang Mata

Tak terelakkan, waktuku terserap penuh pada penggunaan laptop. Sudah tiga semester aku kuliah secara online. Pembelajaran jarak jauh mengharuskanku memasuki kelas virtual. Setidaknya, dalam sehari, sekitar 4 hingga 5 jam kuhabiskan untuk menghadiri pertemuan daring.

Selepas kuliah, aku rehat sejenak. Setelah itu, aku belajar mandiri—lagi-lagi mengandalkan laptop untuk mencari informasi tentang materi kuliah, baik berupa tulisan maupun video. Durasi belajar mandiriku sekitar 1-2 jam.

Terakhir, aku menggunakan waktu senggang untuk blogging. Dalam satu hari, aku bisa menghabiskan waktu sekitar 3-4 jam untuk meramu artikel. Jika menulis di akhir pekan, durasinya bisa menjadi jauh lebih panjang. Bisa dibilang seharian aku duduk di depan laptop, asyik mengetik-ngetik.

Awalnya, aku merasa biasa saja saat harus duduk cukup lama di depan laptop. Akan tetapi, kok, dari hari ke dari, aku rasanya semakin lelah? Tentunya rasa lelah ini tak melulu soal pantat yang kesemutan karena duduk terlalu lama atau leher pegal karena terlalu sering menunduk. Hal utama yang paling menggangguku justru mata lelah karena menatap layar laptop.

Berdasarkan penelitian berjudul Blue Light Hazard: New Knowledge, New Approaches to Maintaining Ocular Health yang dipublikasikan oleh Essilor America pada tahun 2013, ternyata gadget seperti laptop, PC, dan smartphone mengeluarkan sinar biru yang paparannya dapat merusak mata. Pasalnya, sinar biru ini bisa membentuk reaksi partikel oksigen yang berbahaya. Tidak hanya itu, ia pun mampu mengganggu proses fotokimia yang terjadi pada retina mata. Pada akhirnya, kesehatan retina pun jadi menurun. Wah, pantas saja, aku merasa tak tenang saat menatap layar terlalu lama!

Lantas, apa solusinya? Mengurangi waktu di depan laptop memang menjadi salah satu cara utama, tetapi terkadang ada hal-hal yang tak bisa dicoret dari daftar kegiatan—seperti jadwal kuliah atau pengerjaan artikel lomba, misalnya. Aku tahu, soal kesehatan, aku tak boleh keras kepala. Kalau tubuhku sudah dijajah oleh kanker, jangan sampai kondisi penglihatanku ikut-ikutan menurun hanya gara-gara terus menatap layar gadget!

Beberapa cara lain yang kulakukan agar bisa lebih nyaman menatap layar laptop adalah dengan menurunkan kecerahan layar dan mengaktifkan fitur night light. Ada harga yang harus dibayar saat melakukan trik ini. Soalnya, dengan berkurangnya kecerahan layar, warna gambar jadi terlihat kurang jelas. Apalagi, saat mengaktifkan night light, layar jadi berwarna kekuningan. Tentu saja ini permasalahan ini cukup mengganggu saat aku mengerjakan infografis untuk artikel.

ASUS OLED, Laptop dengan Layar Memikat

“Kawan, izinkan aku bercerita
Teknologi yang bikin jatuh cinta
Menatapnya seperti menatap semesta…”

Begitulah bait pertama lagu bung Fiersa Bersari, seorang penyanyi indie, kala menyanyikan lagu bertajuk Bukan Lagu Laptop Biasa. Lagu tersebut merujuk kepada produk laptop keluaran ASUS, produsen gadget asal Taiwan. Lebih spesifik lagi, produk yang diagung-agungkan dalam lagu tersebut ialah ASUS OLED, laptop dengan teknologi layar yang spesial.

OLED, kependekan dari Organic Light Emitting Diode, merupakan semikonduktor berbahan dasar lapisan organik yang berfungsi sebagai pemancar cahaya. Dengan ketipisan yang mencapai 1 milimeter, teknologi OLED menjadi angin segar bagi teknologi layar laptop. Layar OLED memiliki berbagai kelebihan. Tak ayal, ASUS juga semakin gencar menelurkan laptop berkualitas dengan layar OLED sebagai pilihannya.

“Mantan membuatmu sulit tidur
Begitupun sinar biru menggempur
Tenang, ASUS takkan timbulkan gangguan tidur…”

Sinar biru, yang kerap juga disebut dengan blue light, merupakan radiasi yang dipancarkan oleh layar laptop. Berdasarkan peneliti dari Paris Vision dan Essilor Paris, diketahui bahwa spektrum sinar biru yang paling berbahaya bagi mata adalah spektrum 415 hingga 455 nanometer. Adapun spektrum yang paling merusak mata berada pada jangkauan 420 sampai 430 nanometer.

Untuk mengatasi hal ini, ASUS OLED pun ditopang dengan fitur Eye Care. Fitur ini mampu mengurangi tingkat paparan sinar radiasi sampai 70%, loh! Dengan kemampuannya menggeser spektrum biru berbahaya, paparan radiasi berkurang, sementara kualitas layar dan akurasi warna masih tetap prima. Jadi, tampilan dan warna pada layar tidak akan berubah.

Fitur Eye Care yang ditawarkan ASUS OLED ini patut diacungi jempol. Metode yang digunakannya sudah mendapatkan sertifikasi Low Blue Light serta Flicker Free dari TÜV Rheinland, suatu perusahaan yang menyediakan layanan pengujian, inspeksi, maupun sertifikasi global produk serta jasa industri.

Berdasarkan survei Detik Network bersama ASUS, didapatkan fakta bahwa fitur andalan ASUS OLED ini mampu menjaga kesehatan mata 68,10% masyarakat Indonesia yang bekerja dengan laptop selama 10 jam dalam sehari.

“Ini layar bukan sembarang layar
Ampuh mengobati hati yang ambyar
Cahayanya bisa membuat mata berbinar…”

Layar ASUS OLED memang the best. Soalnya, ASUS OLED sudah menggunakan teknologi 3D color gamut sebagai referensi. Color gamut sendiri dapat diartikan sebagai rentang warna yang dapat dihasilkan oleh perangkat agar terlihat oleh mata. Umumnya, rata-rata laptop masih menggunakan 2D color gamut sebagai referensi warna. Adapun 3D color gamut jauh lebih akurat karena menambahkan faktor iluminasi untuk mengukur color volume.

 

Dengan pengukuran color volume yang lebih besar hingga 60%, alhasil layar ASUS OLED mampu menghasilkan reproduksi warna yang tinggi dan akurat. Jika laptop lain hanya mampu mereproduksi warna sebesar 11% di tingkat kecerahan rendah, maka ASUS OLED mampu menampilkan warna dengan jelas dan tentunya akurat!

“Tidak usah lagi kau mencari
Siapa yang mampu mewarnai
OLED punya lebih banyak warna ‘tuk kau pandangi…”

Berbicara tentang layar, ASUS OLED memang tak habis-habisnya jadi perbincangan. Soal warna, layar berteknologi OLED jadi jawaranya. ASUS OLED bisa mereproduksi 100% warna pada color space DCI-P3 (Digital Cinema Initiatives-Protocol 3). DCI-P3 ini dikembangkan untuk kebutuhan industri sinema, setara dengan 133% warna pada color space sRGB. Dengan adanya kemampuan ini, layar ASUS terlihat jauh lebih detail karena kaya akan warna.

“Tengoklah kontras, detail mengagumkan
Respons cepat tidak seperti gebetan
Hari-hari jadi lebih menyenangkan…”

Pada umumnya, laptop menggunakan panel backlight pada LCD-nya. Namun, bukan ASUS namanya kalau tidak memberikan inovasi dan perbedaan. ASUS OLED menggunakan layar yang terdiri dari jutaan lampu LED super mini. Adapun tiap lampu LED tersebut bisa dimatikan sepenuhnya. Warna hitam yang sempurna dengan kontras warna yang tinggi pun bisa dihasilkan oleh layar ASUS OLED. Bahkan, kontrasnya mencapai 1.000.000 berbanding 1 sehingga detail warna menjadi sangat jelas.

Mengenai kesempurnaan cinta warna hitam yang dimilikinya, ASUS OLED telah mendapatkan sertifikasi DisplayHDR 500 True Black dari VESA. Teknologi HDR (High Dynamic Range) ini memungkinkan kita untuk menonton konten visual dengan tampilan grafis yang terlihat jauh lebih nyata. Sementara itu, VESA (Video Electronics Standards Association) merupakan sebuah organisasi yang membawahi lebih dari 285 perusahaan. VESA bertugas untuk mengatur standar tampilan perangkat elektronik. Dengan sertifikat tersebut, terbukti bahwa layar ASUS OLED bisa diajak untuk menonton berbagai konten multimedia.

Tambahan lagi, response time layar ASUS OLED juga sangat tinggi. Dengan response time hingga 0,2 milidetik, ia mampu menampilkan visual video dengan gerakan supercepat. Kekencangan layar ini bahkan 50 kali lebih nendang dibandingkan layar laptop lain.

Tetap Gahar Meski Fokus Utama Terdapat pada Layar

Dari tadi, kita hanya membahas tentang layar, layar, dan layar. Kalau sudah mengunggulkan layar, lantas bagaimana dengan sisi lainnya? Kita memilih laptop ‘kan bukan karena layarnya saja. Kalau tidak ditunjang dengan onderdil yang mendukung, jatuhnya percuma, dong?

Untung beribu untung, ASUS OLED dibekali dengan prosesor gahar agar pengalaman menggunakan laptop tetap prima. ASUS OLED ditemani oleh prosesor Intel Core generasi ke-11 terbaru (Tiger Lake) yang menghadirkan keseimbangan performa dan responsivitas dalam platform berdaya rendah yang dibuat berdasarkan teknologi proses 10nm generasi ketiga.

Seberapa mantap sih, Intel Core Tiger Lake? Sebagai prosesor generasi terbaru, tentunya ia jauh lebih oke daripada prosesor Intel Ice Lake generasi sebelumnya. Kalau aku cari-cari informasinya, Tiger Lake ini hadir dengan grafis XE baru besutan Intel sehingga urusan grafisnya meningkat drastis. Tidak hanya itu, Tiger Lake juga hadir dengan kemampuan CPU yang meningkat sebanyak 20% dan GPU yang punya kinerja dua kali lipat lebih baik.

Berangan-Angan Punya ASUS VivoBook Ultra 15 OLED (K513), Laptop yang Bisa Menemani Hari-Hari Kala Menjalani Kemoterapi

Hingga saat ini, keluarga ASUS OLED terdiri atas beberapa jenis laptop dengan rentang harga 8 hingga 40 jutaan rupiah. Sebut saja ASUS Zenbook Pro Duo 15 OLED (UX582), ASUS Zenbook Pro 15 OLED (UX535), ASUS Zenbook 13 OLED (UX325), ASUS Zenbook 13 OLED (UM325), hingga seri yang dibanderol paling terjangkau, yakni ASUS Vivobook Ultra 15 OLED K513.

“Kita bisa produktif berkarya
Hidup sehat, juga bahagia
Teknologi membuat semua lebih mudah…”

VivoBook Ultra 15 OLED (K513) menjadi laptop impianku yang bisa membantuku agar lebih produktif di sela-sela kemoterapi yang kujalani. Selain memiliki harga yang cukup terjangkau, yakni Rp8.499.000, ia pun dibalut dengan berbagai fitur memukau. Lantas, apa saja yang bisa kulakukan jika aku memiliki laptop hebat ini?

Hal yang Bisa Kulakukan Bersama ASUS VivoBook Ultra 15 OLED (K513)

Selama pandemi berlangsung, aku memang bisa kuliah secara online. Tanpa terasa, mulai tahun 2022, kami akan mulai melaksanakan kuliah tatap muka. Jujur saja, hingga detik ini, aku belum bisa memutuskan apakah aku harus cuti dari perkuliahan atau tidak. Soalnya, sejak Desember 2021, aku sudah memulai kembali pengobatan kankerku. Setiap tiga minggu sekali, aku harus dirawat inap di rumah sakit. Satu kali kemoterapi membutuhkan waktu beberapa hari. Takutnya, jika kondisi tubuhku tidak bisa diajak bekerja sama, aku akan sering absen dari perkuliahan. Percuma juga memaksakan diri untuk kuliah dari Senin sampai Jumat, tetapi sering ketinggalan pelajaran.

Andaikan kondisiku tidak memungkinkan untuk kuliah, tentu pilihan terbaik adalah cuti. Aku sudah merencanakan, jika kondisi tubuhku cukup sehat selama cuti, maka aku akan menghabiskan hari-hariku untuk belajar melalui platform video belajar yang tersedia di internet. Berhubung saat ini aku menempuh pendidikan di jurusan bahasa, cukup mudah bagiku untuk mendapatkan materi pembelajaran. Selain itu, aku juga ingin menambah wawasan dan ilmu baru dengan mengikuti berbagai webinar.

Belajar melalui laptop tentunya dilakukan dalam durasi yang cukup lama. Berkat teknologi AIPT (ASUS Intelligent Performance Technology) yang dimilikinya, VivoBook Ultra 15 OLED (K513) mampu meningkatkan performa hingga 40% sekaligus mengurangi konsumsi daya yang dibutuhkan.

Terlebih lagi, laptop ini juga sudah dilengkapi dengan Windows 10 Home resmi yang bisa digunakan untuk menunjang produktivitas. Tak perlu lagi membeli produk Windows secara terpisah yang harganya jutaan rupiah. Kita bahkan bisa mendapatkan update rutin sistem operasi ini, sehingga tak perlu khawatir suatu hari nanti laptop akan jadi ketinggalan zaman.

Teknologi WiFi 6 yang disematkan pada VivoBook Ultra 15 OLED (K513) juga membuat internet menjadi lebih stabil sekaligus laju. Dengan adanya fitur WiFi Smart Connect, laptop secara otomatis bisa mengkoneksikan diri dengan router yang bersinyal paling kuat.

“Sudah divalidasi oleh Pantone
Berarti akurat untuk editing dan nonton
Hari-hari jadi tidak monoton…”

Sebagai seorang blogger, aku tentu ingin selalu berkembang. Tidak hanya belajar membuat tulisan yang bagus, aku juga ingin bisa membuat infografis serta gambar-gambar menarik yang bisa dipakai di blogku.

VivoBook Ultra 15 OLED (K513) menjadi pilihan yang tepat bagi para desainer grafis. Kualitas layar yang dimiliki ASUS OLED tidak perlu diragukan lagi. Tingkat warna layarnya bahkan juga sudah terverifikasi oleh Pantone Validated Display. Pantone merupakan sebuah perusahaan pewarnaan yang berlokasi di Amerika Serikat. Sementara itu, warna Pantone merupakan sistem pewarnaan yang memungkinkan adanya reproduksi warna yang akurat. Jadi, dengan memiliki sertifikasi Pantone Validated Display, dapat dipastikan layar laptop dibuat dengan teknologi yang canggih dan berkualitas.

Berbicara tentang editing, umumnya aplikasi yang digunakan untuk mengedit memiliki ukuran yang cukup berat saat dipasang di laptop. Oleh karena itu, laptop membutuhkan spesifikasi yang mumpuni. VivoBook Ultra 15 OLED (K513) mengusung RAM tipe DDR4 yang hadir dengan opsi upgrade. Tidak hanya itu, memori penyimpanannya sudah berupa SSD (Solid State Drive) yang jauh lebih cepat daripada HDD (Hard Disk Drive).

Saat menulis artikel, aku tidak pernah langsung menulis di blog. Aku selalu mengandalkan aplikasi Microsoft Word untuk mengetik. VivoBook Ultra 15 OLED (K513) sudah dibekali dengan Office Home & Student 2019. Oleh karena itu, bisa dipastikan aplikasi Office yang digunakan di laptop tersebut adalah versi original dan dapat dipakai untuk selamanya serta akan selalu mendapat pembaruan.

Paket penjualan ini sangat menguntungkan bagi para pengguna. Pasalnya, biaya berlangganan Office bisa dibilang tidak murah. Aku juga tidak berani untuk memasang aplikasi ilegal yang biasanya beredar di internet. Selain ilegal dan tidak bermoral, aku juga takut laptop jadi kemasukan virus—yang bisa berdampak pada kerusakan file, bahkan pencurian data. Tentu aku tak ingin itu semua terjadi.

Belajar, sudah. Mengeksplorasi diri di bidang desain dan kepenulisan, juga sudah. Kini saatnya aku bersantai sejenak dari segala kesibukan. Sebagai pecinta anime (masih belum masuk level wibu, sih) dan drama Korea, bisa dibilang aku sering refreshing dengan cara menonton.

Kadang, kalau lagi rebahan, aku menonton menggunakan smartphone. Tetapi, rasanya kurang mantap, nih. Layar smartphone memang tak seberapa dibandingkan dengan ukuran layar laptop yang lebar. Berkat layar berukuran 15 inci milik VivoBook Ultra 15 OLED (K513), aku bisa lebih leluasa dalam menonton serial favorit. Tak hanya itu, dengan adanya kipas IceBlades dan heatpipe berukuran 8 milimeter, laptop ini mampu mempertahankan suhunya agar tidak terlalu panas. Aktivitas tonton-menonton pun menjadi semakin seru karena audionya sudah tersertifikasi Harman Kardon.

Meraih Mimpi di Sela-Sela Kemoterapi

“Raih tanganku dan percayalah
Hidup ini akan lebih indah
Tinggalkan saja segala resah
Beralihlah pada ASUS OLED…”

Aku percaya, esok hari akan lebih baik daripada hari ini. Saat ini, aku memang masih sibuk berjuang melawan kanker di tubuh. Namun, bukan berarti semangatku untuk hidup menjadi redup. Dulu, aku memang pernah sempat bermalas-malasan di sela-sela pengobatan. Saat ini, aku sudah berbeda. Walaupun aku sibuk berobat, aku ingin berkembang, ingin menjadi sosok yang hebat. Aku mau terus belajar.

Seperti penggalan lirik Bukan Lagu Laptop Biasa, aku juga ingin meninggalkan segala resah. Meninggalkan kekhawatiran soal kesehatanku yang tak bisa kukendalikan, aku ingin lebih fokus pada hal-hal apa yang bisa kulakukan selama aku hidup. Aku mau menjadi seorang blogger yang aktif menelurkan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi sesama.

Bersama ASUS VivoBook Ultra 15 OLED (K513) dengan segudang kelebihannya, aku yakin aku bisa meraih mimpi-mimpiku. Apa yang kita lakukan hari ini akan berguna bagi hari esok. Dengan terus fokus pada tujuan hidup, segala yang kujalani pun jadi lebih berarti.

BEBERAPA JEJAK TERAKHIRKU

Update Kondisi 27 Januari 2022

Halo semuanya! Aku, Vivi Yunika, adalah seorang pejuang kanker limfoma. Saat ini, aku sudah selesai menjalani pengobatan siklus ke-2. Tulisan ini banyak membahas tentang kondisiku sebelum, sesudah, dan tentunya saat imunoterapi dilakukan. Tulisan kali ini dibawa santai aja, ya! Aku ada bahas tentang botak juga, loh~

[Resensi Lengkap] Ringkasan Buku Kece Tanpa Kere:Strategi #SayangUangnya untuk Mengatur Keuangan ala Anak Muda

[Resensi Lengkap] Ringkasan Buku Kece Tanpa Kere:Strategi #SayangUangnya untuk Mengatur Keuangan ala Anak Muda

Artikel ini berisikan tentang ringkasan lengkap dari buku Kece Tanpa Kere: Strategi #SayangUangnya untuk Mengatur Keuangan ala Anak Muda. Resensi buku ini dibuat dengan tujuan memberikan informasi kepada teman-teman. Aku berharap, dengan adanya review ini, sobat bisa memutuskan untuk membeli buku ini secara legal dan membacanya, menambah ilmu dan pengetahuan baru.

[Resensi Lengkap] Ringkasan Buku Seni Hidup Minimalis – Francine Jay

[Resensi Lengkap] Ringkasan Buku Seni Hidup Minimalis – Francine Jay

Artikel ini berisikan tentang ringkasan lengkap dari buku Seni Hidup Minimalis. Resensi buku ini dibuat dengan tujuan memberikan informasi kepada teman-teman. Aku berharap, dengan adanya review lengkap ini, sobat bisa memutuskan untuk membeli buku ini secara legal dan membacanya, menambah ilmu dan pengetahuan baru.