-As long as you’re still breathing, what’s the matter?-

Menu

Home

Contact

My Journey

Achievements

Semenjak Ngemil Bijak, Tubuh Sehat Dompet pun Hemat

Sep 12, 2020 | Blog Competition

Hobi: Ngemil; Makanan Favorit: Camilan!

Masih teringat bertahun-tahun lalu, saat SD dulu masih zamannya tukar-menukar buku biodata dengan teman, saya selalu mengisi bagian hobi dengan kata: ngemil. Ya, sejak dulu, saya memang suka ngemil. Namanya anak-anak, apalagi kalau berada di sekolah tanpa kontrol orang tua, tentu saja bebas untuk membeli makanan yang diinginkan.

Saya juga masih ingat saat SD sering jajan ini-itu. Mulai dari snack bungkusan keluaran pabrikan yang sering numpang iklan di televisi hingga jajanan mamang (abang-abang) di luar pagar sekolah seperti tela-tela (singkong goreng yang diberi bumbu), roti bakar, hingga sosis telur.

Kebiasaan buruk itu pun berlangsung hingga saya duduk di bangku SMP serta SMA. Bisa dibilang hampir setiap hari saya selalu membeli snack yang tentunya menggunakan pengawet buatan dan tak baik untuk tubuh. Mau bagaimana lagi? Lidah rasanya janggal jika sehari saja tak mencicipi camilan ‘candu’ tersebut.

Sebuah kejadian yang menimpa saya lantas membuat saya sadar bahwa gaya hidup saya selama ini sangat jauh dari kata sehat dan baik. Tahun 2017 lalu, saya mulai mengalami gejala sakit seperti demam, berat badan menurun, dan rasa nyeri yang teramat sangat di bagian tubuh tertentu. Mendadak, di tubuh saya pun mulai tumbuh benjolan.

Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun pun berganti. Kadang kondisi kesehatan saya membaik, kadang juga memburuk. Puncaknya, pada awal 2019, saya didiagnosis menderita kanker darah jenis limfoma stadium lanjut. Di usia saya yang ke-19 kala itu, saya harus menjalani kemoterapi sebanyak 18 kali ditambah transplantasi sumsum tulang belakang.

Saat saya bertanya pada dokter, apa penyebab kanker tersebut? Dokter mengatakan bahwa dari segi medis, penyebab kanker belum diketahui. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kanker merupakan penyakit multifaktor. Ada banyak hal yang memengaruhi. Selain genetik, lingkungan dan asupan makan juga berpengaruh.

Saya langsung terdiam. Apa ini semua bermula dari kebiasaan ngemil yang hanya indah sesaat, tetapi malah membuat saya jadi sakit-sakitan? Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan selalu datang terlambat. Saya hanya pasrah menjalani semua ini, tentunya sambil membulatkan tekad untuk berubah.

 

Alasan Orang Ngemil

Seperti yang saya katakan di awal, ngemil bagi saya adalah hobi. Ternyata, berdasarkan survei yang bersumber dari Virtual Sharing Session: Ngemil Bijak kolaborasi antara PT Mondelez Indonesia bersama komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) pada 22 Agustus 2020, ternyata rata-rata orang Indonesia bergantung pada camilan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, terutama kebutuhan mental dan emosional. Itu artinya tubuh tidak butuh, tetapi lebih didasarkan keinginan semata.


Setelah sakit, asupan camilan saya berkurang drastis. Saya tak lagi menggila seperti dulu. Awalnya memang terasa sulit untuk menahan diri agar tak lagi mengemil, tetapi lama-kelamaan saya jadi terbiasa. Bahkan, sekarang, setiap ngemil camilan yang tidak sehat, tebersit rasa bersalah di hati. Sebanyak 84% orang Indonesia bahkan mengatakan bahwa mengemil dapat membantu meningkatkan kualitas hidup mereka. Alasan utama mereka mengemil adalah meningkatkan mood, disusul dengan alasan untuk ‘me time’ alias menikmati waktu sendiri, serta mendapatkan rasa nyaman. Saya sendiri juga sadar bahwa ngemil itu hanya keinginan, bukan kebutuhan.

 

Ajak Semuanya untuk #NgemilBijak

Narasumber dari virtual sharing session tentang ngemil bijak tersebut, Tara De Thouars, mengedukasi para peserta tentang perencanaan mengemil. Artinya, mengemil harus terukur, bukannya membabi-buta (seperti yang selama ini saya lakukan, haha). Ada setidaknya 3 tips yang dapat dipraktikkan dalam ngemil bijak:

  1. Kenali isyarat tubuh mengapa Anda ingin ngemil, misalnya apakah karena lapar ataukah perlu untuk mengembalikan mood.
  2. Kemudian Anda bisa memilih apa camilan yang tepat berdasarkan isyarat tubuh tersebut, tentunya dengan memperhatikan porsi camilan dan waktu ketika Anda ngemil.
  3. Perhatikan bagaimana Anda ngemil, dengan memaksimalkan semua indera Anda, karena Anda akan dapat mengenali isyarat tubuh, kapan harus berhenti ngemil.

 

Cara Kesehatan Terjaga dengan Ngemil Bijak

Mbak Khrisma Fitriasari selaku perwakilan dari PT Mondelez Indonesia juga menyampaikan bahwa perusahaan Mondelez berharap agar masyarakat bisa terbiasa dengan pola ngemil bijak. Adapun dengan menerapkan ngemil bijak, kita bisa mendapatkan gizi seimbang lewat ngemil. Sebagai gadis yang belum berkeluarga, rasanya justru orang tua saya yang pusing meminta saya berhenti ngemil. Ayah saya sendiri bukan tipe tukang ngemil. Bisa dibilang beliau tak pernah membeli camilan, kecuali kami yang membeli, baru Ayah ikutan nimbrung. Sementara itu, Ibu saya sama seperti saya, suka ngemil. Oleh karena itu, kami berdua menguatkan tekad untuk menjauhi camilan tak sehat.

Infografis Ngemil Sehat

Makanan yang aman untuk dijadikan camilan tentu punya kriteria tertentu. Ada tips menyiapkan camilan untuk keluarga supaya kesehatan tetap terjaga. Pertama, makanan tersebut harus menggunakan bahan-bahan yang sehat serta bergizi. Contoh paling mudah yakni camilan berupa buah-buahan. Sebut saja mulai dari jeruk, pisang, semangka, mangga, pepaya, dan lain sebagainya. Tak terelakkan lagi kalau buah punya banyak kandungan vitamin, harganya lumayan terjangkau, dan rasanya segar sekaligus enak.

Kedua, makanan yang dipilih harus bebas dari zat pengawet, pewarna, serta pemanis buatan. Pokoknya, kalau di dalam komposisi makanan ada sesuatu yang berakhiran benzoat, nitrat, asam propionat, dan sejenisnya, lebih baik dihindari. Meskipun BPOM melegalkan penggunaan zat pengawet tersebut, mengonsumsinya terlalu banyak bisa membahayakan tubuh.

Ketiga, perhatikan porsi dan waktu mengemil. Jika camilan berupa buah, saya rasa tidak ada masalah jika porsinya cukpu banyak. Akan tetapi, jika camilan berupa snack yang tidak sehat, jangan sampai mengonsumsi terlalu banyak. Selain itu, konsumsi camilan usai jam makan selesai. Jangan ketika ingin makan malam, kita mengemil dahulu. Nanti, saat jam makan malam tiba, kita justru kekenyangan karena sudah mengemil. Ingat, utamakan makan terlebih dahulu, baru mengemil.

Keempat, jika memungkinkan, mari buat sendiri camilan sehat sekaligus enak. Kita bisa membuat camilan dengan bahan yang bernutrisi. Kandungan makanan utama dan camilan pun bisa saling melengkapi. Misalnya, jika hari itu kita kurang makan sayur, maka kita bisa membuat camilan dengan bahan yang berserat dan mengandung banyak vitamin serta mineral. Beberapa contoh camilan yang baik antara lain kacang-kacangan, smoothies, sereal, oatmeal, dan lain sebagainya.

 

Dompet Hemat, Tubuh Sehat

Kesehatan menjadi hal terpenting, sebab mahal harganya. Saya sudah mengalami sendiri sakit bertahun-tahun. Selain waktu terbuang, uang pun habis demi menjalani pengobatan, belum lagi nyawa dipertaruhkan. Oleh karena itu, kita perlu bijak dalam memilih camilan. Sebisa mungkin hindari snack yang tak bergizi. Lebih baik konsumsi camilan yang sehat, seperti biskuit bernutrisi hingga buah-buahan, gandum, dan sejenisnya.

Ngemil bijak pun bisa membuat dompet hemat. Hal ini dikarenakan kita benar-benar sadar tentang apa yang akan kita konsumsi, bukan main asal beli. Harga snack saat ini juga rata-rata cukup mahal. Untuk sebungkus camilan bisa dibanderol belasan ribu rupiah, setara dengan satu kilogram jeruk, misalnya. Perbedaan yang sangat jauh, bukan? Jika dengan uang belasan ribu kita hanya bisa membeli sebungkus camilan, kita sesungguhnya bisa mendapatkan buah jeruk dengan jumlah melimpah.

Bukan berarti kita tak boleh ngemil sama sekali. Ada langkah-langkah yang harus kita lakukan sebelum memutuskan untuk ngemil. Langkah ini didasari dengan logika, bukan perasaan semata. Apa sajakah itu?

Infografis 5 Langkah Sebelum Ngemil

Cek Sinyal Tubuh

Kita perlu memahami sinyal di tubuh. Apakah ingin mengemil karena perut lapar, ataukah hanya karena keinginan lidah. Kita bisa diam sejenak, bahkan meletakkan tangan di atas perut. Rasakan seberapa tinggi kadar rasa lapar kita.

Relaksasi

Jika usai cek sinyal tubuh kita jadi yakin bahwa sebenarnya kita mulai merasa lapar, maka relaksasi menjadi langkah selanjutnya yang harus dilakukan. Lakukan relaksasi sebelum makan. Tarik napas perlahan, rasakan hingga udara memenuhi paru-paru. Tahan sejenak, lalu embuskan secara perlahan. Tubuh akan berelaksasi ketika kita mengembuskan napas. Kita pun bisa mengontrol emosi dan menajamkan logika sehingga tak kalap ketika makan.

Mindful Snacking

Kegiatan mengemil dilakukan secara sadar. Artinya, otak kita yang mengontrol, bukan lidah. Dulu, kalau membeli snack ukuran besar untuk dimakan keluarga, saya sering kalap dan makan terus-menerus. Setiap kali mengigit, saya mau dan mau lagi. Dengan mengontrol diri, saya pun bisa tahu kapan waktunya berhenti. Kita perlu menikmati makanan tersebut dengan perlahan, batasi diri dengan menentukan waktu kapan harus berhenti ngemil. Misalnya, ‘tiga keripik lagi’, atau misalnya ‘dalam dua menit ke depan, aku akan cuci tangan.’

Tunggu Sebentar

Berikan jeda antara waktu makan. Otak pun bisa berpikir, apakah kondisi tubuh saat ini sudah kenyang atau masih lapar. Dengan memberikan waktu istirahat, perut pun bisa mengirimkan sinyal ke otak yang mengatakan bahwa kita sudah makan.

Bersyukur

Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah.

Seperti kutipan lirik lagu yang sempat populer di tahun 2009 tersebut, kita harus mensyukuri apa yang ada pada kita, termasuk makanan. Dengan bersyukur, kita bisa menerima diri sendiri dengan lebih baik serta berkembang untuk meningkatkan kemampuan ngemil bijak.

 

Jadi, sobat, sudahkah kamu memulai untuk #NgemilBijak?

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Ngemil Bijak yang diadakan oleh Ibu-Ibu Doyan Nulis.

About Me

Gadis kelahiran 2000 yang menjadi cancer survivor sejak usia 17 tahun. Karena tak tahu hingga kapan akan bertahan, ia pun mulai meninggalkan jejak-jejak berupa tulisan. Seluruh isi blog ini merupakan buah pikirannya.

What Are You Looking For?

What’s in My Blog?

Day by Day

Member of:

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *