-As long as you’re still breathing, what’s the matter?-

Menu

Home

Contact

My Journey

Achievements

Muncul SDM Unggul, Negara Tak Lagi Amburadul

Dec 11, 2019 | Personal Development

PENGANGGURAN, CIRI SDM BELUM UNGGUL

Sudah sekitar sepuluh bulan saya menjalani hidup ala pengangguran. Bangun, mandi, makan, lalu tidak berbuat apa-apa. Sungguh tidak produktif. Namun, apa boleh buat, kondisi saya saat ini masih harus menjalani kemoterapi, membuat saya sulit untuk beraktivitas seperti orang sehat lainnya.

Masih teringat jelas di benak saya saat bahkan tidak mampu untuk beranjak dari tempat tidur. Akibatnya, saya harus berhenti kuliah. Memfokuskan diri dalam masa penyembuhan. Keluarga besar dan teman-teman saya memaklumi saya yang tak dapat berbuat apa-apa, tetapi tetap saja saya merasa kesal dan takut.

Kesal pada diri saya yang tak berdaya. Takut dengan masa depan saya, akan jadi apa saya nantinya jika berhenti kuliah? Saya tahu pendidikan sangat penting. Dengan pendidikan, saya dapat lebih dekat dengan cita-cita.

Saya tidak ingin menambah angka pengangguran di Indonesia. Saya yakin bukan hanya saya saja yang menakutkan hal seperti itu terjadi. Ada 267 juta jiwa di Indonesia, dan seluruhnya tentu ingin hidup sejahtera.

“… seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial …”

Ilustrasi Lambang Garuda

Begitulah kutipan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Fokuskan diri ke frasa “kesejahteraan umum.”

Jika ingin sejahtera, maka kita perlu memperbaiki kondisi Indonesia saat ini. Bukan hanya soal infrastruktur atau benda mati lainnya, melainkan juga meningkatkan kualitas manusianya sendiri. Indonesia butuh Sumber Daya Manusia (SDM) unggul agar dapat maju.

 

MENGAPA SAYA MENEKANKAN SDM UNGGUL?

Tidak dapat dimungkiri, kunci dari sebuah negara adalah warganya sendiri. Sebab, merekalah yang memimpin, merekalah yang hidup di dalamnya. Masyarakat sebuah negara merupakan cerminan negara itu sendiri. Jika masyarakat yang ada tidak mampu mengelola sumber daya alam di negaranya sendiri, maka semua itu sia-sia.

Lihatlah negeri kita tercinta, Indonesia. Betapa banyak kekayaan alam yang ada di bumi pertiwi kita. Katakanlah mulai dari Sumatera, tempat hasil bumi melimpah, hingga ke Papua sana, tempat di mana tambang emas berada. Belum lagi perairan Indonesia yang masih begitu luas, masih dapat dieksplorasi. Eksplorasi, bukan eksploitasi.

Laut di Pulau Karawapop

Foto Kekayaan Alam Indonesia yang Terletak di Pulau Karawapop

Nyatanya, kekayaan alam Indonesia pernah dikeruk habis-habisan selama beratus-ratus tahun. Saat Indonesia dijajah, bukannya tidak ada perlawanan sama sekali. Tilik lagi sejarah, berbagai kerajaan di Indonesia pernah berperang melawan penjajah. Begitu pula gerakan nasional yang kerap bermunculan. Akan tetapi, karena SDM unggul saat itu masih terbatas, maka barulah pada tahun 1945 kita menyatakan kemerdekaan.

Ranking Indonesia di Berbagai Bidang

Kini kita merdeka, tetapi belum sejahtera. Hingga saat ini, menurut data Legatum Prosperity Index, dibandingkan seluruh negara di dunia, Indonesia berada pada urutan ke-63. Kondisi kehidupan masyarakat berada di posisi 106, kesehatan di angka 97, dan edukasi di peringkat ke-88.

 

Living Condition
Kondisi kehidupan di Indonesia masih memprihatinkan, menduduki peringkat 106.

Personal Freedom
Kebebasan pribadi di Indonesia masih sangat kurang, berada pada urutan 103.

Health
Kesehatan masyarakat Indonesia masih buruk, terbukti dari posisinya yang berada pada peringkat 97.

Safety & Security
Keamanan dan pertahanan di Indonesia masih belum cukup baik, yakni ada di posisi 96.

Market Access & Infrastructures
Akses pasar dan infrastruktur masih patut dibenahi karena menduduki peringkat 88.

Education
Pendidikan di Indonesia hanya masuk urutan 88, padahal pendidikan merupakan kunci pengembangan bangsa.

Kita masih punya banyak ‘pekerjaan rumah’. Kita perlu menjadi manusia yang unggul demi meningkatkan taraf hidup, sekaligus memajukan Indonesia. lalu, bagaimana caranya?

KITA BUTUH FISIK DAN MENTAL YANG KUAT

Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.

Ilustrasi Kuat

Masih ingat dengan pepatah tersebut? Makna dari kalimat tersebut memang benar adanya. Jika kita memiliki tubuh yang sehat, jiwa kita pun kuat. Hal tersebut saya alami sendiri.

Pada pertengahan tahun 2017, saya mulai sakit-sakitan. Padahal, saya baru saja beranjak kelas 12 SMA dan harus fokus menghadapi ujian. Apa dampak dari sakit-sakitan yang saya alami itu?

Peringkat saya di kelas menurun drastis. Bukannya ingin menyombongkan diri, tetapi semenjak duduk di bangku sekolah dasar, saya selalu menduduki tiga besar. Ketika saya mulai sakit, semangat belajar pun menurun. Jangankan untuk belajar, untuk tidur saja saya sampai kesulitan. Setiap malam, saya merasakan nyeri yang amat sangat di tubuh, sehingga tak mampu berbuat apa-apa. Belum lagi semenjak saat itu, saya juga sering demam hingga absen sekolah beberapa kali. Hal tersebut membuat saya ketinggalan pelajaran.

Itulah sebabnya saya setuju bahwa untuk belajar, kita terlebih dahulu harus punya fisik yang sehat. Walaupun begitu, tidak semua orang bisa langsung berobat ke dokter bila sakit. Masih banyak masyarakat Indonesia yang berkekurangan secara ekonomi, sehingga mau tak mau hanya pasrah menghadapi sakit yang diderita.

Maka dari itu, pemerintah harus berperan dalam membantu masyarakat di bidang kesehatan. Misalnya saja, dengan memberikan subsidi kesehatan bagi orang-orang yang membutuhkan. Contoh nyatanya sendiri bisa kita lihat di penerapan BPJS kesehatan yang dapat dinikmati seluruh warga Indonesia.

Selain itu, pembangunan infrastruktur tidak kalah penting. Untuk pelayanan serta infrastuktur rata-rata di kota-kota besar Indonesia sudah cukup baik. Namun, apa kabar pelayanan di pelosok sana? Rumah sakit dan puskesmas menjadi tempat langka. Begitu pula dengan tenaga kerja profesional seperti dokter dan perawat, jumlahnya masih sangat minim.

Sungguh trenyuh hati kita kala melihat adik-adik kita yang tinggal di perbatasan. Saat sakit, mereka cenderung berobat seadanya, padahal pengetahuan tentang teknologi pengobatan pun masih kurang. Lebih menyedihkan lagi, akibat tak adanya fasilitas pengobatan yang baik, nyawa pun menjadi ancamannya. Bayangkan, penerus bangsa harus tergolek lemah karena sakit yang menghalangi. Sungguh memilukan.

LENGKAPI DENGAN ILMU DAN SKILL

Tong kosong nyaring bunyinya.

Apa gunanya kita punya tubuh dan jiwa yang sehat, namun tak ada ‘isi’ alias ilmu? Pemerintah sangat gencar mencanangkan wajib belajar—tak lagi selama 9 tahun, namun sampai 12 tahun. Meskipun begitu, nyata angka putus sekolah di Indonesia masih cukup tinggi.

Berdasarkan data dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), total jumlah anak putus sekolah dari jenjang SD hingga SMA mencapai sekitar 4,5 juta anak. Mengapa bisa terjadi? Ternyata, menurut Yayasan Sayangi Tunas Cilik (STC), faktor utama yang mengakibatkan anak putus sekolah adalah kemiskinan dan pernikahan dini.

Bagaimana bisa menjadi SDM unggul dan hidup sejahtera jika harus terkurung dalam kemiskinan? Dengan tidak mendapat pendidikan layak, bagaimana mereka dapat keluar dari ‘lingkaran setan’ tersebut? Begitu pula, jika alasan putus sekolah karena pernikahan dini, bagaimana mereka bisa menjamin kehidupan mereka dan anak-anak mereka selanjutnya lebih sejahtera?

Tidak Punya Ijazah, Mau Jadi Apa?

Mayoritas pekerjaan saat ini juga membutuhkan calon pekerja yang memiliki ijazah. Rata-rata perusahaan menerima karyawan dengan tingkat pendidikan minimal SMA atau sederajat. Bahkan, nyatanya, saat ini lulusan SMA atau SMK pun masih kalah saing dibandingkan lulusan Diploma. Lulusan Diploma kalah dari lulusan Strata 1 (S1). Begitu seterusnya.

Ijazah menjadi penting karena benda tersebut menjadi bukti bahwa kita telah memperoleh pendidikan. Kita lebih berilmu dibandingkan orang-orang yang tidak menempuh pendidikan di tingkat tersebut. Pertanyaannya, apakah tidak punya ijazah berarti bodoh? Apakah orang-orang yang tidak bersekolah adalah orang-orang yang gagal dan tidak akan pernah unggul?

Dunia kerja saat ini cenderung lebih ‘ganas’ dibandingkan dengan zaman dahulu. Jika dulu ijazah SMA masih menjadi hal langka, kini sudah biasa. Jika dulu lulusan S1 pasti mudah mendapat kerja, sekarang tidak lagi.

Orang tua saya sendiri yang kini berusia separuh baya, nyatanya dulu masih bisa bekerja kantoran. Namun memang, keduanya memiliki jenis pekerjaan yang berbeda tergantung pada kualifikasi yang dimiliki. Ibu saya seorang lulusan SMA, berhasil menjadi karyawan kantoran. Sementara itu, ayah saya yang hanya pernah mengecap bangku sekolah dasar (bahkan tidak selesai) bekerja sebagai sopir di perusahaan tersebut.

Apakah lantas itu berarti ayah saya lebih tidak pintar dari ibu saya?

Belum tentu. Pertama, paling tidak ayah saya bisa melakukan kegiatan dasar seperti membaca, menulis, dan menghitung. Meski ayah saya tak punya ijazah, beliau mengerti banyak hal. Beliau mengerti cara berbisnis, paham tentang mesin-mesin, bisa memperbaiki berbagai peralatan elektronik, dan lain sebagainya. Yang paling aneh, rumah yang saya huni belasan tahun ini dibangun oleh ayah saya.

Tampak Depan Rumah

Tampak Depan Rumah yang Sederhana

Beliau bukan lulusan teknik sipil, bukan pula arsitek, apalagi insinyur. Anehnya, dari rumah rongsok yang tak jelas lagi rangkanya, beliau bisa memperhitungkan struktur bangunan. Semuanya dikerjakan sendiri, hanya dibantu dengan satu-dua tukang yang disuruhnya.

Saya sering kali berandai-andai. Jika saja ayah saya terlahir dari keluarga mapan, berkesempatan memperoleh pendidikan layak, sejauh mana beliau akan terbang? Jika dulu ayah saya tak perlu putus sekolah demi membantu ibunya menjajakan gorengan, akan seperti apa sosok ayah saya sekarang ini?

Kesempatan.

Itulah hal yang sangat berarti. Sesuatu yang didambakan setiap orang. Sesuatu yang dimiliki anak normal, sesuatu yang hanya menjadi mimpi bagi anak-anak yang terpasung dalam kemiskinan.

Untuk menjadi SDM unggul, setiap anak perlu beroleh pendidikan. Tidak hanya lulus dan beroleh ijazah, tetapi mengutamakan ilmu yang telah dimiliki. Dengan pengetahuan saja tidak cukup. Pengetahuan tak ada gunanya tanpa keahlian.

Apa gunanya tahu beras bisa berubah jadi nasi, tetapi tak bisa memasak nasi?

Apa gunanya belajar, kalau semua hanya tersimpan di otak—bahkan terlupakan?

Pendidikan yang baik tak hanya merecoki anak dengan teori, tetapi juga hard skill. Dengan terjun langsung, anak-anak akan terbiasa. Pendidikan di Indonesia saat ini masih mementingkan teori dibandingkan praktik, padahal kenyataannya praktik tersebutlah yang akan kita terapkan sehari-hari.Hard Skills

Bukan berarti teori tidak penting. Mereka seperti paket komplet yang tak terpisahkan satu sama lain. Teori bisa kita ibaratkan layaknya tulang, sementara praktik menjadi otot. Tanpa kerangka yang kokoh, tubuh tak akan kuat. Sebaliknya, tanpa otot, maka kerangka tak ada gunanya.

CUKUPKAH DENGAN BERKOMPETENSI?

Belum. Ada satu hal lagi yang tak kalah pentingnya, yakni moral dan soft skill yang baik.

Soft Skills

Pendidikan karakter adalah salah satu hal yang wajib diajarkan sejak dini kepada anak. Beberapa contoh karakter SDM unggul antara lain bertanggung jawab, berintegritas, dan adil serta jujur. Kemampuan mengelola emosi juga wajib dimiliki seseorang.

Lihatlah di luar sana, banyak orang cerdas. Banyak yang berhasil menjabat sebagai pimpinan perusahaan maupun wakil rakyat di pemerintahan. Akan tetapi, tanpa adanya moral, maka keserakahan pun menguasai mereka.

Berapa banyak kasus korupsi yang pernah terjadi di internal perusahaan maupun di lembaga pemerintahan? Mereka memperkaya diri sendiri, merugikan orang-orang sekitar, bahkan masyarakat banyak. Maka dari itu, berakhlak mulia sangat diperlukan bagi kemajuan bersama.

Dengan ilmu serta keahlian yang kita miliki, marilah membangun negeri. Kerahkan segenap kemampuan kita, bidang apa pun yang kita jalani. Sumber daya manusia artinya kita sebagai manusia mengerahkan apa yang kita miliki dalam melakukan sesuatu. Bisa dengan bekerja atau mulai berwirausaha dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat di sekitar kita. Bersama-sama jauh lebih baik daripada sendiri. Semakin banyak manusia yang unggul, maka akan semakin baik pula.

SDM Unggul, Cegah Negeri Amburadul

Semua komponen negara harus bersinergis untuk memajukan kesejahteraan, sehingga tercapai kemakmuran di seluruh negeri baik dari segi ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya. Masing-masing sektor membutuhkan tangan-tangan yang sigap dan siap untuk melayani.

Kini kita hanya perlu bersinergi dengan pemerintah. Pemerintah menyediakan sarana dan prasarana bagi kita supaya kita dapat menjadi SDM yang unggul. Kita sebagai SDM unggul pun turut melakukan apa yang kita bisa.

AKHIR KATA, INI CITA KEPADA PEMERINTAH

Untuk menciptakan SDM yang unggul, ada beberapa hal yang sebaiknya menjadi fokus pemerintah: fasilitas kesehatan yang layak dan dapat dijangkau seluruh masyarakat, pendidikan yang merata baik teori maupun praktik, serta pembekalan moral maupun sosialisasi akan pentingnya menjadi manusia berkarakter.


Sungguh penting keberadaan SDM yang unggul.
Kita diharap mampu mengatasi masalah yang muncul.
Susah payah bersama kita pikul.
Bahu-membahu, saling merangkul.
Hingga tak ada lagi warga berilmu ‘gundul’.
Tak ada pula orang berhati ‘tumpul’.
Tak akan ada lagi masyarakat yang masygul.
Tak akan tercipta pula negeri yang amburadul.
Saat kemakmuran bukan lagi hanya sebuah judul.
Kebahagiaan pun datang memantul.
Karena sejahtera, kita pun jadi gembul.
Tentu begitu, betul?

About Me

Gadis kelahiran 2000 yang menjadi cancer survivor sejak usia 17 tahun. Karena tak tahu hingga kapan akan bertahan, ia pun mulai meninggalkan jejak-jejak berupa tulisan. Seluruh isi blog ini merupakan buah pikirannya.

What Are You Looking For?

What’s in My Blog?

Day by Day

2 Comments

  1. Tri Bintang

    Mantap kak Artikelnya sangat bagus, efek-efeknya juga sangat memanjakan mata. Semoga menang

    Reply
    • viviyunika

      Terima kasih 🙂

      Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *