-As long as you’re still breathing, what’s the matter?-

Menu

Home

Contact

My Journey

Achievements

Tak Lagi Terombang-Ambing, Mari Merdeka Belajar Daring!

Oct 15, 2021 | Blog Competition

Pembuka

Pada awal tahun 2020, seluruh dunia dibuat kalang kabut dengan kehadiran si kecil yang tak kasatmata: COVID-19. Virus ini dengan kejamnya meluluhlantakkan segala sektor kehidupan, mulai dari ekonomi, bisnis, kesehatan, bahkan juga pendidikan. Baik negara maju maupun berkembang, termasuk Indonesia, turut terkena dampak dari COVID-19.

Penanggulangan COVID-19 dilakukan dengan cara melakukan physical distancing dan vaksinasi. Tidak hanya itu, berbagai sektor kehidupan pun harus ‘tutup pintu’ terlebih dahulu. Sebut saja restoran, tempat hiburan, hingga sekolah pun harus mengunci rapat-rapat gerbangnya. Tidak ada lagi yang namanya makan di tempat, tidak ada pula yang namanya belajar di sekolah. Pembelajaran diubah ke dalam mode daring atau dalam jaringan, di mana proses belajar-mengajar menggunakan fasilitas berupa internet dan perangkat pendukung seperti telepon pintar, laptop, maupun komputer.

Belajar Daring, Apakah Efektif?

Banyak terdengar berita orang tua mengeluh bahwa anaknya tidak bisa belajar dengan fokus ketika melakukan pembelajaran daring. Pembelajaran jadi seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan: masih berlayar, namun tak tentu arah tujuannya. Ada banyak faktor yang menyebabkan proses pembelajaran terganggu, mulai dari faktor eksternal hingga faktor internal.

Infografis: dokumen pribadi

Faktor eksternal penyebab pembelajaran kurang efektif antara lain dikarenakan koneksi internet yang tidak stabil, tempat belajar yang terlalu ramai sehingga tidak kondusif, hingga perangkat siswa yang kurang mendukung untuk menginstal aplikasi tertentu. Sementara itu, faktor internal penyebab pembelajaran kurang maksimal yakni dikarenakan tenaga didik yang tidak interaktif saat mengajar, kurangnya kontrol dari tenaga pendidik terhadap peserta didik, hingga sang peserta didik sendiri yang kurang motivasi untuk menerima pelajaran.

Merdeka Belajar Secara Daring

Ketika pandemi COVID-19 masih belum mereda, agak sedikit memaksa jika sekolah-sekolah dibuka kembali dengan alasan pendidikan. Pasalnya, di atas pendidikan, kesehatan adalah hal yang lebih penting. Maka dari itu, pembelajaran daring masih harus terus dilakukan selama COVID-19 masih merajalela. Lantas, jika belajar secara daring kurang efektif, bagaimana caranya agar siswa-siswi mampu merdeka belajar secara daring?

Agar belajar daring bisa berjalan dengan lancar, tentu saja kita harus menguraikan masalah-masalah yang ada ketika pembelajaran daring tersebut berlangsung. Setelah itu, kita harus mencari penyelesaiannya agar belajar daring bisa menjadi lebih baik. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, terdapat beberapa alasan pembelajaran daring kurang efektif, yakni dikarenakan faktor internal dan eksternal. Setelah mengetahui faktor-faktor tersebut, langkah selanjutnya adalah mencari solusi.

Koneksi Internet Tidak Stabil

Kecepatan internet yang tinggi serta koneksi yang stabil menjadi tolak ukur merdeka pada koneksi internet. Bagi siswa-siswi yang tinggal di kota-kota besar, mungkin jaringan internet tidak menjadi masalah. Pasalnya, infrastruktur telekomunikasi memang terpusat di kota-kota besar. Akan tetapi, bagi siswa-siswi yang tinggal di pelosok daerah, kerap kali internet menjadi masalah utama. Koneksi jaringan tidak stabil membuat murid tidak bisa mendengarkan penjelasan guru dengan jelas karena terputus-putus. Bahkan, sering kali juga murid tidak bisa memasuki aplikasi meeting online dikarenakan masalah jaringan. Lebih parah lagi, ada juga daerah di pelosok yang belum ter-cover dengan internet yang memadai sehingga pembelajaran tidak bisa dilakukan secara daring.

Infografis: dokumen pribadi

Agar koneksi internet bisa menjadi lebih baik, tentu saja hal ini butuh campur tangan dari pemerintah dan penyedia layanan telekomunikasi. Pembangunan tower internet yang merata menjadi solusi agar internet bisa dijangkau di kota-kota kecil. Sementara itu, jika masalah sinyal terjadi karena rumah murid yang bermasalah dengan jaringan, murid bisa mengambil alternatif dengan belajar di cafe ber-WiFi (meskipun agak kurang kondusif).

Lingkungan Belajar Tidak Kondusif

Saat kuliah online, terkadang saya mendengar kokok ayam saat teman saya menjawab pertanyaan dosen. Terkadang, saya juga mendengar ibu teman saya bergosip dengan suara keras, mengalahkan suara teman saya yang sedang berbicara. Lingkungan belajar yang tidak kondusif tentu memengaruhi tingkat konsentrasi murid.

Infografis: dokumen pribadi

Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan mencari satu spot di rumah yang paling tenang. Selain itu, koordinasikan kepada anggota keluarga bahwa kita sedang akan belajar. Kita juga bisa menggunakan headset yang mampu meredam suara dari luar sehingga lebih fokus mendengarkan pelajaran.

Perangkat Kurang Mendukung

Dewasa ini, zaman semakin canggih. Penggunaan smartphone atau telepon pintar sudah menjadi hal yang umum di masyarakat. Rata-rata murid dan mahasiswa pun sudah memiliki perangkat seperti laptop. Akan tetapi, tidak semua murid beruntung bisa mendapatkannya. Ada murid yang masih menggunakan perangkat model lama sehingga spesifikasinya tidak memadai untuk mengunduh aplikasi meeting online.

Infografis: dokumen pribadi

Solusi dari permasalahan ini sebenarnya cukup sulit. Kita tidak bisa serta-merta memaksa murid untuk membeli perangkat baru, sebab harus melihat tingkat ekonomi murid tersebut. Hal yang bisa dilakukan adalah guru dapat membuat video materi pembelajaran dan membagikannya di aplikasi chatting seperti Telegram, LINE, atau WhatsApp. Aplikasi chatting umumnya tidak membutuhkan spesifikasi yang tinggi untuk dijalankan.

Tenaga Didik Tidak Interaktif

Sering kali saya mendengar teman saya berkata bahwa dia tidak mendengarkan dosennya sama sekali, bahkan terkadang tertidur—masih dengan laptop menyala. Penyampaian dosen tak ubahnya lagu pengantar tidur. Menurut saya, guru maupun dosen harus kreatif dan inovatif dalam memberi pelajaran. Kalau pelajarannya membosankan, siapa yang tidak bosan? Jangankan belajar daring, dulu saya pernah belajar luring (luar jaringan) secara langsung di universitas. Sang dosen hanya membaca materi PDF dengan kata-kata yang sama persis. Saya pun jadi mengantuk.

Infografis: dokumen pribadi

Tenaga didik dapat membuat kelas jadi lebih interaktif, seperti memberikan pertanyaan, memanggil murid untuk menjawab (jika tidak ada murid yang merespons), melakukan ice-breaking dengan games kecil-kecilan, hingga tak lupa juga memberikan waktu istirahat singkat jika jam pembelajaran berlangsung lama. Misalnya, jika satu pelajaran berlangsung selama 90 menit, paling tidak guru memberikan waktu 3 hingga 5 menit di sela-sela pelajaran agar murid bisa rehat sejenak.

Selain itu, guru pun dapat membuat materi pembelajaran terkesan lebih hidup, seperti membuat slide dengan template menarik, memasukkan kuis kecil-kecilan di tengah pelajaran, hingga memasukkan video yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Penggunaan media seperti gambar dan video yang kaya akan warna membuat murid akan lebih tertarik untuk belajar.

Kurangnya Kontrol terhadap Peserta Didik

Sering sekali kita mendengar bahwa saat jam belajar online, murid malah sibuk bermain HP, chatting dengan teman, rebahan, dan melakukan aktivitas yang tidak berkaitan dengan pembelajaran. Pembelajaran daring memang sangat lemah di titik ini. Guru tidak dapat bertatap muka dengan murid secara langsung, jadi murid merasa bebas melakukan apa saja.

Infografis: dokumen pribadi

Solusi agar guru bisa lebih mengontrol peserta didik adalah dengan mewajibkan murid untuk membuka kamera. Dengan begitu, guru bisa melihat apa yang sedang peserta didik lakukan. Walaupun solusi ini cukup bagus, solusi ini pun memiliki kekurangan, yakni penggunaan kuota internet akan membengkak. Walau begitu, kita patut bersyukur karena Kemendikbud telah memberikan bantuan kuota internet bulanan agar kita tetap bisa terhubung ke internet.

Peserta Didik Kurang Motivasi untuk Belajar

Ada sebagian murid yang kurang suka dengan pembelajaran berbasis daring. Hal ini dikarenakan mereka merasa sepi, tidak bisa berinteraksi dengan teman-temannya. Selain itu, sering kali murid malas untuk membuka kamera dan mikrofon. Kalau menurut teman saya, ia memberi tahu saya seperti ini: “kuliah online kurang greget, nih!”

Infografis: dokumen pribadi

Cara untuk mengatasi permasalahan ini tak lain tak bukan harus didasari pada murid itu sendiri. Apa tujuan kita belajar? Tentu saja untuk mendapatkan ilmu. Seharusnya, media pembelajaran tidak menjadi alasan bagi kita untuk menimba ilmu tersebut. Justru kita bisa ambil sudut pandang yang berbeda, jadikan belajar daring sebagai suatu pengalaman baru. Siapa yang tahu, di masa depan, saat teknologi semakin canggih, pembelajaran dilaksanakan secara daring? Ya, saya hanya berandai-andai, sepertinya hal itu masih akan lama terjadi. Masih ada banyak hal yang harus kita benahi.

Penutup

Agar kita bisa merdeka belajar secara daring, dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, baik dari guru, murid, dan pemerintah. Pemerintah dapat menyediakan layanan internet yang baik serta memberikan bantuan kuota internet gratis. Tenaga didik pun harus berbenah dan menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dengan pembelajaran yang interaktif dan inovatif. Terakhir, sang murid juga harus punya kemauan untuk belajar.

#BlogUnparBelajarDaring

About Me

Seorang pecinta kata dan nada. Telah berkecimpung di dunia kepenulisan selama 10 tahun. Seluruh isi blog ini merupakan buah pikirannya.

What Are You Looking For?

What’s in My Blog?

Day by Day

Member of:

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *