My Cancer Story

-There is nothing to be afraid of-

Efek Kemoterapi: Botak! [Part 2]

Feb 14, 2020 | Daily Life, My Cancer Story

Setelah pada pertengahan Januari 2020 saya sempat membuat artikel tentang kebotakan rambut akibat kemoterapi, akhirnya saya membuat artikel lagi tentang rambut. Sebagai perbandingan, teman-teman bisa membaca artikel part satu terlebih dahulu di sini. Maklum, manusia selalu berubah. Apa yang kita pikirkan hari ini, belum tentu akan tetap sama di masa depan. Jika pada awalnya saya masih belum merasakan botak yang sesungguhnya, maka kali ini ….

Sebagai seorang pejuang kanker darah jenis limfoma hodgkin, saya menjalani kemoterapi. Pada awalnya, saya menggunakan kombinasi obat dengan singkatan ABVD. Sebenarnya, obat kemoterapi itu banyak jenisnya. Penggunaan tergantung kebutuhan masing-masing pasien. Ada yang menggunakan obat dosis ringan, ada pula yang butuh obat berdosis tinggi sehingga lebih ampuh menghancurkan sel-sel kanker.

Daftar obat kanker terpopuler 2016


Saya sendiri, usai belasan kali kemoterapi menggunakan obat ABVD, ternyata tidak kunjung sembuh. Kondisi saya malah semakin memburuk (teman-teman bisa baca kisah kanker saya di sini). Maka dari itu, dokter pun memutuskan mengganti obat yang saya gunakan. Saya pun diberikan obat-obatan bernama ICE, yang dosisnya 5 kali lipat lebih kuat daripada obat ABVD. Penjelasan lebih rinci tentang jenis-jenis obat yang digunakan untuk mengobati kanker, khususnya kanker limfoma hodgkin, bisa sobat baca di sini.

Baik kemoterapi ABVD maupun ICE, keduanya menggunakan bahan kimia yang dapat menghancurkan sel-sel yang membelah cepat, contohnya sel kanker. Lantas, apa pengaruhnya bagi rambut dan kebotakan?

Rata-rata obat kemoterapi tidak hanya menghancurkan sel kanker, tetapi juga sel sehat lain yang berkembang cepat. Salah satunya tak lain tak bukan ialah sel-sel pada rambut. Data dari The American Academy of Dermatology menyebutkan bahwa rambut seseorang bisa bertumbuh sepanjang sekitar 1.2 cm per bulan. Sebagai perbandingan, pertumbuhan rambut ini tentu jauh lebih cepat dari pertumbuhan kuku yang hanya mencapai 3.47 mm per bulan atau alis mata yang kecepatan pertumbuhannya 4.2 mm per bulan.

Hal inilah yang menyebabkan rambut pasien kemoterapi ikut mengalami kerontokan. Jenis-jenis kerontokan pun berbeda-beda tergantung kondisi pasien yang meliputi ketahanan tubuh, jenis penyakit, sekaligus kombinasi obat yang diberikan. Sebanyak 65% pasien kemoterapi mengaku mengalami kerontokan parah pada rambut. Biasanya, rambut mulai rontok sekitar 2-4 minggu setelah sesi kemoterapi pertama dilakukan. Rambut juga tidak akan langsung tumbuh setelah sesi kemoterapi terakhir, karena obat kemoterapi masih bekerja di dalam tubuh. Butuh waktu untuk menumbuhkan rambut kembali, dan banyak pula yang menyatakan bahwa rambut baru survivor kanker tumbuh jauh lebih bagus. Berhubung saya sendiri belum selesai melalui masa kemoterapi, jadi saya pun tak tahu bagaimana bentuk rambut saya nantinya, haha ….

Kembali lagi kepada apa yang saya alami. Awalnya, setelah kemoterapi obat ICE yang pertama, kondisi rambut saya memang masih normal. Mengingat sudah melakukan 14 kali kemoterapi ABVD, saya cukup bangga dengan rambut saya yang rontok banyak, tetapi masih bisa bertahan (meskipun ujung-ujungnya jadi seperti rambut model pria). Namun, sekitar 2 minggu setelah kemoterapi, efeknya pun timbul. Rambut saya kembali rontok. Bahkan, saya rasa, kerontokannya jauh lebih parah daripada rontok akibat obat ABVD. Hal yang paling saya benci adalah rambut pendek saya yang rontok tersebut membuat sekujur tubuh terasa gatal. Bayangkan saja, kita baru saja menggunting atau mencukur rambut. Biasanya, tentu akan ada sisa rambut yang menempel di leher. Sisa-sisa rambut inilah yang membuat saya geregetan. Bagaimana tidak? Selain berserakan di mana-mana, rambut tersebut mengakibatkan gatal-gatal. Setiap kali berbaring lalu duduk kembali, ada hamparan rambut yang jatuh ke sarung bantal, seprai, bahkan ke pakaian dan tubuh saya.

Berhubung rambut saya tak bisa bertahan lagi, saya pun memutuskan untuk membabat habis rambut.

What?! Lu botak, Vi?!”

Ya, itu benar. Tak perlu malu dan sibuk menyangkal. Lagipula, saya juga bukan tipe orang yang menangis tersedu-sedu saat melihat rambut rontok. Kehidupan nyata tidak selebay itu, Ferguso.

Pengalaman cukuran ini terjadi di luar negeri. Bukannya mau sok keren atau apa, saat itu saya sedang menjalani kemoterapi kedua di Kuala Lumpur, Malaysia. Beberapa hari sebelum berangkat, saya merasa rambut mulai rontok menggila. Namun, saat itu, menata rambut tak masuk dalam pikiran. Barulah ketika kemoterapi dilakukan, kegilaan rambut rontok ini mulai menjadi-jadi. Apa daya, saya saat itu hanya bisa baring-baring di kamar rumah sakit selama beberapa hari.

Setelah terbebas dari kemoterapi, berhubung kondisi tubuh cukup baik, saya pun dilepaskan dari sangkar diizinkan pulang oleh dokter. Kembali ke penginapan, saya malah sibuk mencabuti rambut dan merasa takjub. Mungkin saya memang makhluk aneh. Saya malah amazed dengan rambut-rambut yang gugur. Tak perlu mencabut rambut susah payah seperti mencabuti rumput tetangga, mereka rontok dengan mudahnya. Tak ada lagi kekuatan dari akar rambut. Segala produk perawatan rambut yang hilir mudik di pasaran pun rasanya tak mampu lagi menjaga keutuhan rambut.

Masalahnya, mencabuti rambut itu tidak sama dengan mencukur. Setelah asyik mencabuti rambut, saya sadar bahwa kondisi rambut saya jadi sangat aneh. Sebagian masih utuh, sebagian bolong, hingga memamerkan kulit kepala yang mulus. Bentuknya benar-benar menggelikan jika dilihat. Saya pikir, sekalian dibotakkan saja, daripada separuh-separuh seperti ini.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tepat di bawah penginapan tempat saya bercokol, ada kedai gunting rambut. Salon pria, tentunya. Berbekal topi, beberapa lembar uang ringgit, dan niat yang bulat sebulat kepala saya, saya pun memasuki salon tersebut. Sang petugas yang merupakan keturunan India tersebut pun menatap saya penuh tanda tanya.

“Potong habis,” ujar saya kala itu sembari sibuk membuka topi, membuat rambut aneh saya terpampang.

Zero?” tanyanya memastikan, tak lupa memperagakan bentuk bundar menggunakan tangannya.

Saya sontak mengangguk, mengiyakan sang petugas. Ia pun segera beraksi menggunakan alat cukur rambut di tangannya. Mesin berderu, rambut berjatuhan. Sensasinya menggelikan sekaligus menyegarkan.

Usai membuat kepala saya sukses jadi licin, saya hanya tertawa-tawa melihat cermin. Tidak ada rasa sedih. Saya juga merasa tak perlu dikasihani. Saya tetap orang yang sama, hanya dengan gaya rambut berbeda. Itu tak mengubah apa-apa.

Wakanda forever! Tim prajurit botak wanita yang keren abis dan sayangnya tidak ada di dunia nyata.

Catatan Singkat

Ini hanya perkara rambut.
Jangan merasa takut.
Tak usah pula kaujadikan kemelut.
Bagi tubuh, rambut hanya sebuah atribut.
Kehilangannya tak akan membuat engkau acakadut.
Tak perlu memberengut, apalagi bersungut-sungut.
Justru, tanpa rambut, kau jadi terlihat imut!

Head painting yang keren abis

What’s in My Blog?

Fresh from Oven

Day by Day

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Madurasa Blog Competition
You cannot copy content of this page