-As long as you’re still breathing, what’s the matter?-

Menu

Home

Contact

My Journey

Achievements

Sel Kanker Menyebar Kembali, Padahal Sudah Kemoterapi

Jan 13, 2020 | Daily Life, My Cancer Story

Jujur, saya bingung sekali harus berbuat apa saat ini. Baru saja pulang ke Pontianak (12 Januari 2020), saya harus segera berangkat ke Kuala Lumpur. Kemoterapi saya tak lagi bisa dilakukan di Kuching dengan obat biasanya (obat berjenis ABVD). Hal tersebut dikarenakan kanker di tubuh saya sudah menyebar hingga ke limpa, rahim, area leher, bahkan tulang. Pantas saja sudah sebulan lebih saya merasa sakit di area perut dan punggung belakang.

Hasil gambar untuk cancer cells gif

sumber: gfycat.com

Awalnya, saya sudah adem-ayem menjalani kemoterapi sebanyak 14 kali. Rencana awalnya, saya dikemoterapi hingga 16 kali. Usai kemoterapi ke-14 tersebut, kondisi kaki saya juga kembali bengkak. Dulu, kaki kiri saya memang pernah bengkak karena adanya sel kanker yang menyumbat aliran darah. Sekarang, bengkak kembali terjadi. Dokter tak berani memberikan kemoterapi.

Sejak sebulan terakhir ini, perut dan bagian punggung saya juga terasa sakit. Pertama, saya kira semua terjadi hanya karena saya pulang dari Kuching menggunakan bus. Jika biasa saya menggunakan pesawat terbang, perjalanan memakan waktu 45 menit. Kurang dari sejam, saya duduk di kursi yang nyaman dan perjalanan mulus. Jauh berbeda dengan medan tempur bus yang naik-turun, berbelok, berliku, melaju, melambat, Tayo selalu senang.

Hasil gambar untuk gambar tayo gif

sumber: gfycat.com

Anehnya, meskipun tubuh saya yang remuk-redam sudah normal kembali, perut saya tetap saja sakit. Awal-awal, saya kembali sotoy dan mengira perut saya ini mengalami masalah pencernaan. Maklum, bentuk si cokelat unyu (tak perlu saya sebutkan apa itu) juga tidak terlalu indah. Apalagi, ditambah-tambah dengan Papa yang bilang bahwa saya hanya mengalami perut kembung. Jadilah saya konsumsi obat-obatan terus-menerus, dengan harapan perut saya kembali normal.

Perut saya itu, kalau dijelaskan rasa sakitnya, juga agak membingungkan. Rasanya benar-benar tidak nyaman. Belum lagi, ada kalanya perut terasa melilit seperti orang ingin buang air besar (bedanya, tidak ada sinyal dari otak yang menandakan saya benar-benar harus BAB). Jadilah saya menahan sakit seperti mulas berjam-jam.

Berhubung sudah lama tidak kemoterapi, dokter meminta saya melakukan PET scan. Dokter mau tahu, apakah sel kanker tersebut hanya tersisa di paha. Jika iya, mungkin dokter ingin memberikan penanganan berupa radioterapi.

Di saat orang tua saya berpikir, “jangan sampai anak ini diradioterapi, cukup kemoterapi saja”, saya justru berpikir: bukannya kalau dikemoterapi, artinya masih ada lebih dari satu tempat sel kanker berada?

Benar saja. Usai PET scan dilakukan, dokter kaget melihat sel kanker saya sudah menyebar ke mana-mana. Seperti kucing yang sekali beranak langsung beberapa ekor, sel kanker saya pun dengan bandelnya beranak-pinak.

Dokter memang tidak bilang harapan hidup saya tipis, tetapi dokter meminta saya untuk cepat-cepat berobat ke Kuala Lumpur. Saya harus melakukan kemoterapi dosis tinggi, lalu langsung dilakukan pengambilan stem cell (sumsum tulang belakang) karena kemoterapi tersebut bisa merusak sel. Nantinya, setelah kemoterapi beberapa kali, stem cell tersebut akan dikembalikan ke tubuh saya.

 

Hasil gambar untuk stem cell tirto

sumber : tirto.id

Biaya yang diperlukan tidak sedikit, melainkan ratusan juta rupiah.

Saya buntu. Benar-benar buntu.

Saya tidak terlahir dari keluarga kaya raya, apalagi miliarder. Andaikan saya punya dana, tentu tak ada masalah.

Untuk itu, akhirnya setelah berembuk dengan keluarga, kami memutuskan untuk menggalang dana bagi pengobatan saya. Dari total biaya yang dibutuhkan sekitar Rp350.000.000, biaya tersebut masih dapat berubah tergantung situasi dan kondisi.

Saya harap kemoterapinya tidak bikin teler. Sumpah, dikemoterapi biasa (tanpa embel-embel ‘dosis tinggi’) saja efeknya sudah saya benci. Apalagi kalau dosis tinggi? Entah apa yang akan saya lakukan setiap hari. Mungkin hanya uring-uringan.

Bagaimana mau bahagia jika sakit terus-menerus? Semua orang yang menjenguk pasti akan berkata: kamu yang tabah ya, harus kuat, dan lain sebagainya.
Saya bukannya sok kuat atau tabah.
Saya hanya pasrah.
Mau bagaimana lagi? Tidak ada jalan lain. Mau tidak mau, sakit tidak sakit, ya dijalani saja.
Tentunya kalau ada uangnya.
Kalau tak ada dana sama sekali?
Hanya bisa berharap pada Yang Mahakuasa.

Jika sobat ingin membantu saya, sobat dapat berdonasi di halaman Kitabisa (silakan klik di sini). Sedikit bantuan yang sobat berikan berarti sangat besar bagi saya.

About Me

Gadis kelahiran 2000 yang menjadi cancer survivor sejak usia 17 tahun. Karena tak tahu hingga kapan akan bertahan, ia pun mulai meninggalkan jejak-jejak berupa tulisan. Seluruh isi blog ini merupakan buah pikirannya.

What Are You Looking For?

What’s in My Blog?

Day by Day

Member of:

1 Comment

  1. jeje

    keren !

    Reply

Trackbacks/Pingbacks

  1. Sembuh dari Kanker Limfoma Hodgkin Setelah Berjuang Tiga Tahun - Vivi Yunika - […] 2020, saya melakukan PET scan untuk ketiga kalinya. jika pada PET scan pertama hasilnya memuaskan, PET scan kedua justru…
  2. Lawan Corona dengan Karantina Bermakna, Lakukan Kegiatan Berguna! | Vivi Yunika - […] Proses pengobatan sudah berjalan 87%. Sayangnya, bukannya sembuh, mendadak timbul gejala bahwa kondisi saya makin parah. Mau tak mau,…

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *