Menu

Home

Contact

Blog Posts

My Cancer Story

My Achievements

-Menulislah, Maka Kau Tak Akan Hilang dari Peradaban-

Lawan Corona dengan Karantina Bermakna

‘Karantina’ yang Merana

“Bangun lagi, tidur lagi. Bangun lagi, tidur lagi. Banguuuun… tidur lagi!”

Apa sobat familiar dengan cuplikan lagu di atas?

Saya sendiri merasa bahwa lagu tersebut cocok menjadi soundtrack dalam kisah kehidupan saya. Setiap hari, kerjaan hanya bangun-tidur saja. Ya, sebenarnya tak sampai se-lebay itu, sih. Cuma, memang benar kalau kehidupan normal saya berubah drastis selama setahun terakhir.

Awalnya, kehidupan saya sama seperti remaja lainnya. Bersekolah, tamat SMA, lalu masuk ke perguruan tinggi. Akan tetapi, keadaan justru berubah kala saya divonis menderita kanker darah stadium lanjut. Jangankan untuk beraktivitas normal, untuk berjalan saja sudah kesulitan. Saya pun menjalankan ‘karantina’ setiap harinya, sebab memang kondisi tak memungkinkan untuk bepergian. Hari-hari dijalani dengan perasaan merana, sebab tak bisa ke mana-mana. Untungnya, setelah sekitar 3 bulan mencari pengobatan terbaik, saya dikemoterapi.

Hari demi hari berlalu. Proses pengobatan sudah berjalan 87%. Sayangnya, bukannya sembuh, mendadak timbul gejala bahwa kondisi saya makin parah. Mau tak mau, saya harus melakukan kemoterapi dosis tinggi, bahkan transplantasi tulang belakang. Pada akhirnya, saya selesai menjalani pengobatan pada April 2020 lalu dan telah dinyatakan sembuh.

Kesan-Pesan Menjadi Orang dalam Pengawasan

Jika dulunya saya bisa menjalani kemoterapi dengan adem-ayem, maka semua berubah sejak Januari 2020. Bukannya apa, tentu sobat tahu bukan, saat ini dunia dikejutkan dengan novel coronavirus 2019 atau yang lebih sering disebut covid-19? Virus ini merupakan virus yang menyerang sistem pernapasan.

Meski sudah muncul pada Desember 2019, virus ini baru menyebar luas ke seluruh penjuru dunia sejak awal tahun. Jika mulanya orang-orang mengira virus ini hanya bersifat lokal, maka ternyata dugaan salah besar. Virus ini menyebar begitu cepat hingga ke negara kita, Indonesia.

Covid-19 sukses membuat seisi dunia panik. Saya juga jadi bingung. Pasalnya, saya harus bolak-balik dari Indonesia ke Malaysia untuk kemoterapi. Desas-desus penerbangan akan ditutup membuat saya tambah kalut. Puncaknya, pada April 2020, saya berhasil berangkat ke Malaysia untuk sesi pengobatan terakhir. Beruntungnya lagi, saya berhasil tiba tepat H-1 lockdown Malaysia. Lega? Tentu. Walaupun saya harus menjalani tes swab covid-19, untungnya saya bebas virus dan pengobatan bisa berjalan lancar.

Usai berobat, saya diperbolehkan pulang ke tanah air tercinta. Setibanya di Pontianak, saya langsung jadi ODP (Orang dalam Pengawasan). Saya harap-harap cemas, takut ditanya ini-itu. Ternyata, semua tak serumit yang saya pikirkan. Turun dari pesawat, suhu tubuh dicek. Kami pun memberikan surat persetujuan karantina mandiri selama 14 hari. Sebagai tanda ‘sah’, kami pun mencelupkan ujung jari tangan ke dalam tinta. Persis seperti pemilu. Sebagai seseorang yang pernah jadi ODP, pesan saya hanya satu: patuhi aturan pemerintah.

Bijaksana Menghadapi Karantina

Saya tentu menuruti aturan pemerintah. Misalkan (amit-amit) saya benar-benar terkena covid-19, jangan sampai orang lain ikut tertular. Bayangkan, kita bisa secara tak sengaja membuat orang lain sakit, bahkan meninggal! Jangan sampai ada yang mengatakan saya berpikir kejauhan. Bukankah semua pasien yang meninggal awalnya juga tertular dari orang lain?

Lagipula, kita juga tak tahu apakah orang di luar sana sehat atau sudah terkena virus. Gejalanya, ‘kan, muncul dalam rentang waktu 2 minggu. Artinya, bisa jadi hari ini kita bertemu seseorang yang positif covid-19 tapi belum muncul gejala. Apesnya, usai berjumpa, baru gejalanya muncul. Jadilah ada kemungkinan kita sudah ikut tertular. Bukannya jahat, tapi mendingan waspada, dong.

Kita tak tahu, mungkin orang-orang di sekitar kita terlihat sehat dan memakai masker, tapi bisa tetap menularkan virus.

Aktivitas yang Berkualitas

Kita memang sedang menjalani karantina, tapi bukan artinya jiwa kita juga ikut-ikut terkekang. Daripada hanya baring-baring seharian tak jelas atau bermalas-malasan, saya melakukan beragam aktivitas yang membuat saya senang sekaligus bermanfaat. Setidaknya ada 9 kegiatan yang saya rangkum dalam satu kata: KARANTINA.

Semenjak tamat sekolah, tak ada lagi jadwal wajib untuk meregangkan tubuh. Tak ada lagi guru yang memaksa saya untuk berolahraga. Meskipun dulu saya tak terlalu suka pelajaran olahraga, saya tahu bahwa olahraga sangat berguna bagi tubuh. Dengan berolahraga teratur, daya tahan tubuh meningkat. Kita bisa menghindari berbagai macam penyakit. Apalagi, sebagai orang yang pernah sakit parah, olahraga sangat bermanfaat untuk mempertahankan kondisi kesehatan.

Foto ini diambil beberapa tahun lalu, saat saya berpikir sayang jika pose aneh ini tak diabadikan.

Olahraga yang saya lakukan pun bukan jenis olahraga berat. Saya melakukan peregangan tubuh setiap hari agar otot-otot tidak kaku. Dulu, saya suka melenturkan tubuh. Apa daya, saat ini tubuh saya tak lagi selentur dulu. Selain itu, untuk saat ini sesungguhnya saya ingin sekali bersepeda, tapi keadaan saat ini tak memungkinkan. Semoga situasi cepat kembali normal sehingga keinginan saya yang satu ini bisa segera terwujud.

Sudah lebih dari setahun otak saya berhenti mendapat asupan pengetahuan dari perkuliahan. Oleh sebab itu, saya rutin menambah pengetahuan secara mandiri. Tujuannya? Tentu supaya otak tak berkarat, haha …. Apalagi di saat covid-19 menyeruak seperti ini, banyak lembaga yang menyediakan webinar—sebuah seminar berbasis online. Umumnya webinar disediakan gratis oleh sang penyelenggara, jadi kita hanya perlu mengandalkan kuota internet. Salah satu webinar yang saya ikuti yakni “Kupas Tuntas Kehidupan Sosial, Budaya & Pendidikan Masyarakat Jerman.” Lumayan, saya juga mendapatkan sertifikat sebagai bukti kepesertaan.

Sertifikat webinar yang diselenggarakan oleh Universitas Pelita Bangsa. Materi yang dibawakan cukup menarik. Terlebih lagi, penyelenggara memberi sertifikat secara cuma-cuma.

Halaman utama website saya, viviyunika.com

Menulis sudah menjadi hobi saya sejak kecil. Bahkan, ketika duduk di bangku sekolah dasar, saya sudah memiliki blog pribadi. Meskipun begitu, tak dimungkiri, blog saya sempat terbengkalai karena kesibukan sekolah. Ketika blog viviyunika.com ini dibuat, saya sudah bertekad untuk menulis secara rutin. Selama karantina, saya jadi tambah punya banyak waktu untuk menulis. Topiknya pun beragam. Menulis juga mengembangkan pengetahuan, karena sebelum membuat sebuah tulisan, saya selalu menggali informasi lebih dalam.

Saya hanyalah seorang gadis penyintas kanker yang tak berpenghasilan. Karena sempat berhenti kuliah, saya juga tak diberi uang sama sekali oleh orang tua. Bagaimana mau minta uang jajan? Uang untuk berobat saja sudah tak mencukupi! Syukurlah saya mendapat banyak bantuan dan akhirnya bisa menyelesaikan pengobatan.

Saat ini, perekonomian memang sedang tak tentu rudu akibat covid-19. Banyak yang penghasilannya menurun, diliburkan, atau bahkan terkena pemutusan hubungan kerja. Oleh karena itu, kita perlu cerdas dalam menyikapi situasi. Agar dapat menabung, saya mulai mengambil berbagai pekerjaan freelance di platform online. Pekerjaan seperti content writer, data collector, hingga transcriptor sudah saya jabanin.

Ayam tepung crispy, kue ayam, hingga pempek ala saya

Semenjak sakit, asupan makan saya diatur sedemikian rupa agar lidah saya terpuaskan, tapi tubuh tetap sehat. Jajan di luar pun amat dibatasi. Solusinya? Ya, masak sendiri. Sebagai seorang perempuan, saya memang tak terlalu mengerti urusan dapur. Untuk memasak makanan yang mudah seperti nasi goreng, tumis sayur-sayuran, atau sekadar membuat perkedel, sih, saya bisa. Namun, baru sejak karantina ini, saya mulai mencoba macam-macam masakan hingga kue-kue. Tak ayal, selain ternutrisi, perut pun jadi gendut!

Rumah saya memang tak luas, tapi rasa-rasanya mengapa rumah ini begitu sesak, ya? Di sudut ruangan mana pun, rasanya ada terlalu banyak barang. Bahkan, di kamar saya sendiri saja, lemari sudah penuh. Setelah dilihat-lihat, pantas saja tak ada ruang kosong lagi. Jangankan pakaian yang biasa saya pakai sehari-hari, seragam sekolah saat SD hingga pakaian masa kecil saja masih tersimpan rapi! Kondisi yang masih bagus membuat saya tak sampai hati membuangnya. Ingin dijual kepada pengepul, biayanya terlalu rendah. Ingin disumbangkan, saya bingung mau disumbang ke mana. Saya pun mengambil kesempatan ini dengan meletakkan barang-barang tak terpakai ke beragam marketplace. Mulai dari pakaian anak-anak, novel bekas, bahkan hingga benda random seperti pianika berhasil terjual. Jadinya, pundi-pundi bertambah, rumah pun jadi lega.

Penghasilan penjualan barang bekas di tahun ini. Lumayan, daripada barang hanya teronggok di rumah.

Beberapa novel koleksi saya yang didapat dari hadiah ulang tahun, hadiah juara kelas, hingga beli sendiri ketika ada diskon besar-besaran.

Tidak hanya hobi menulis, saya juga suka membaca. Ketika kecil, saya paling suka membaca cerita fiksi. Baru ketika usia semakin bertambah, saya jadi bosan dengan cerita fiksi masa kini yang temanya itu-itu saja—bad boy, perjodohan, kisah cinta CEO—sehingga saya mulai membaca buku nonfiksi dengan beragam topik. Saya bahkan berlangganan akses ebook di salah satu platform di Indonesia. Dengan begitu, saya bisa mendapatkan bacaan bermutu, tak hanya sekadar potongan artikel-artikel yang bertebaran di internet.

Pada dasarnya, saya adalah orang yang berantakan. Setiap kali selesai merapikan rumah, kerapian itu tak akan lestari. Hanya dalam beberapa hari, ruangan yang sudah rapi jali jadi berantakan lagi. Maka dari itu, saya menghabiskan waktu untuk kembali merapikan sudut demi sudut ruangan. Kondisi rumah yang rapi lebih sedap dipandang dan tentu saja saya tak kesulitan lagi untuk mencari benda-benda di dalam rumah.

Before-After membersihkan meja. Barang yang tak dibutuhkan akan disimpan di tempat lain.

Setelah seharian melakukan berbagai aktivitas, saya pun menyisihkan waktu untuk bersantai. Meskipun sudah produktif, bukan berarti kita harus selalu produktif 24 jam, bukan? Haha …. Saya hanya seorang manusia biasa yang tak luput dari dosa juga butuh leha-leha. Biasanya, ketika bersantai, saya membuka media sosial supaya tetap terhubung dengan dunia luar. Saya juga menonton drama Korea, anime, hingga beragam serial barat.

Jalani Hari Sepenuh Hati

Itu dia keseharian saya selama menjalani karantina mandiri ini.  Ada beragam aktivitas yang dapat saya lakukan meski harus #DiRumahAja. Meskipun saat ini  kehadiran virus corona atau covid-19 menganggu aktivitas, bukan berarti kita harus berhenti berproduktivitas. Lakukanlah kegiatan yang ingin dan bisa kita lakukan.

Masih bingung mau ngapain? #DengarkanHatimu, pikirkan apa yang ingin sobat perbuat di masa-masa seperti ini. Bagaimana dengan sobat sekalian? Apakah sudah menjalani hari-hari dengan sepenuh hati?

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

My Achievements

My Achievements -Menulislah, Maka Kau Tak Akan Hilang dari Peradaban- Menu Home Contact Blog Posts My Cancer Story My Achievements Meskipun sudah mulai blogging sejak duduk di bangku sekolah dasar,...

read more

What Are You Looking For?

About Me

Gadis kelahiran 2000 yang menjadi cancer survivor sejak usia 17 tahun. Karena tak tahu hingga kapan akan bertahan, ia pun mulai meninggalkan jejak-jejak berupa tulisan. Seluruh isi blog ini merupakan buah pikirannya.

What’s in My Blog?

Day by Day