-As long as you’re still breathing, what’s the matter?-

Menu

Home

Contact

My Journey

Achievements

Sembuh dari Kanker?

Mar 26, 2020 | Daily Life, My Cancer Story

Tantangan dalam Hidup

Pernah bermain game, bukan? Tentunya game atau permainan tersebut ada tujuannya. Contohnya, Mario Bros harus menyelamatkan Putri Peach. Sebelum bisa tiba di lokasi tuan putri, ia harus menjelajahi Kerajaan Jamur. Di dalam kerajaan tersebut, ada banyak halangan yang ia hadapi. Tak terbayang berapa banyak prajurit yang harus dilawan, jebakan yang harus dihindari. Namun, Mario Bros terus melangkah maju ke depan.

sumber: pinterest.com

Jika di dalam suatu game, alurnya sudah ditentukan oleh si pembuat permainan tersebut, maka alur permainan hidup kita ditentukan oleh Tuhan. Meskipun begitu, bukan artinya kita tak bisa berbuat apa-apa. Kita telah diberikan akal budi. Sama seperti Mario Bros yang akan bergerak sesuai keinginan si pemain, kita juga bisa bergerak dengan keinginan kita. Kitalah pemain dalam hidup kita. Mampu atau tidaknya, kita tetap harus melangkah.

Terkadang, Mario Bros punya dua rute sekaligus. Jika naik ke atas, mungkin dia bertemu makhluk yang akan menabraknya. Jika tetap berjalan lurus, dia harus melompati jurang. Walaupun berbeda cara, tetapi jika berhasil, maka Mario Bros akan tiba ke checkpoint. Seperti itulah hidup kita. Ada banyak jalan yang bisa ditempuh.

Tantangan terbesar saya (hingga saat tulisan ini ditulis), sudah tentu adalah penyakit kanker yang menggerogoti tubuh. Awal mulanya, kanker saya masih level satu. Munculnya malu-malu. Lama-lama, dia naik level. Munculnya malah jadi tak tahu malu alias terang-terangan. Saya juga sudah mencoba melalui banyak jalan untuk menyembuhkan penyakit ini, mulai dari pengobatan tradisional hingga pengobatan medis.

Perjalanan tak selalu mulus. Melalui penyakit ini, saya belajar banyak hal. Saya memang bukan tipe orang yang bisa terbuka begitu saja. Awalnya, tak banyak yang tahu tentang apa yang terjadi pada saya—hanya keluarga besar dan teman tertentu yang menemani perjalanan penyakit saya sejak tahun 2017. Akan tetapi, pada suatu titik, saya sadar bahwa saya memang tak dapat berjuang sendirian. Awal tahun ini, saya memutuskan untuk terbuka. Tak disangka, saya mendapat banyak dukungan dan doa. Terima kasih untuk semuanya!

 

Woi, Kepanjangan, Bambang! Jadi, Lu Sembuh Apa Kagak?

Pada 24 Maret 2020, saya melakukan PET scan untuk ketiga kalinya. jika pada PET scan pertama hasilnya memuaskan, PET scan kedua justru menunjukkan hasil sebaliknya. Makanya, saya diberi pengobatan yang lebih kuat lagi tingkatannya. Kemoterapi ditambah dengan transplantasi sumsum tulang.

sumber: suara.com

Sebelumnya, saya sudah menjalani belasan kali kemoterapi dengan obat khusus kanker limfoma hodgkin. Terhitung telah 14 kali saya diberi kemoterapi obat ABVD serta 3 kali kemoterapi obat ICE. Setelah pengobatan ABVD gagal, barulah saya menjalani kemoterapi ICE. Jadi, hasil scan yang saya lakukan kali ini menjadi cerminan tingkat keberhasilan kemoterapi ICE.

 

Jadi? Jadi? Sudah Sembuh?

Perlu saya tekankan sekali lagi, istilah sembuh pada pasien kanker adalah remisi. Artinya, tidak ada sel kanker yang aktif pada saat tersebut. Sebaliknya, jika pasien kanker yang awalnya sudah berada pada masa remisi tiba-tiba kembali menemukan sel kanker baru dari hasil pemeriksaan, artinya pasien tersebut relaps. Dalam hidup ini, siapa yang tahu apa yang akan terjadi?

Berdasarkan hasil scan 24 Maret lalu, hasilnya bersih, tidak ada tanda-tanda kehidupan sel kanker. Berbeda dengan hasil scan awal Januari 2020, banyak sel kanker bermukim di area perut, leher, hingga tulang. Kini, semuanya lenyap.

 

JADI? VIVI SEMBUH DONG!

AMIN! Saya ingin sekali sembuh. Namun, terlalu dini untuk berbicara. Saya hanya takut untuk sesumbar. Hingga saat artikel ini ditulis, sudah tidak ada sel kanker di tubuh saya berdasarkan hasil scan tersebut.

 

Pengobatan Sudah Selesai?

Ini yang menarik. Ini salah satu alasan mengapa saya memilih untuk membuat sebuah artikel di blog saya, meskipun saya tak yakin semua orang memilih untuk membaca hingga habis. Terkadang, saya hanya merasa bingung untuk menjawab satu per satu pertanyaan dari sobat yang begitu peduli.

Sampai artikel ini ditulis pada 26 Maret 2020, saya masih menjalani pengobatan. Mulai 26 Maret hingga 31 Maret 2020, saya menjalani kemoterapi terakhir (semoga!). Kemoterapi yang dinamai BEAM ini merupakan kombinasi kemoterapi khusus sebelum pasien melakukan transplantasi sumsum.

 

Kok Transplantasi Lagi? Bukannya Waktu Itu Sudah?

Pada bulan Februari 2020, saya melakukan pengambilan stem cell. Proses ini hanyalah salah satu tahap dari keseluruhan rangkaian pengobatan. Pengertian sederhananya, transplantasi itu artinya sel diambil, lalu dimasukkan ke tubuh. Bagian diambil sudah dilakukan, tetapi hingga saat ini belum dimasukkan lagi. Itu bagian yang terakhir.

 

Jadi, Kapan Transplantasi Sumsum Tulangnya?

Seperti yang tadi saya katakan, sekarang saya sedang menjalani kemoterapi terakhir. Tujuannya yakni untuk membunuh semua sel kanker yang mungkin tak tertangkap oleh canggihnya alat PET scan. Berdasarkan pengalaman orang lain pun, kemoterapi ini membuat sel darah putih pasien menjadi nol, alias benar-benar tidak ada. Artinya, kami para penderita kanker sel darah putih akan kehilangan sel darah putih.

Nantinya, transplantasi sumsum tulang dilakukan setelah kemoterapi berakhir. Ada jeda sehari antara kemoterapi dan transplantasi. Prosesnya pun berlangsung tak lama, hanya sekitar satu jam. Di situlah proses stem cell yang dulunya diambil akhirnya dimasukkan kembali.

[Untuk yang bingung apa itu stem cell dan apa fungsinya, silakan baca di sini.]

 

Setelah Memasukkan Stem Cell, Boleh Keluar dari Rumah Sakit?

Sayangnya, belum. Saya harus stay di rumah sakit sekitar 2 minggu, setidaknya hingga kondisi saya stabil. Jadi, saat (nantinya) sel darah putih nol, pasien tidak akan punya kekebalan tubuh sama sekali. Maka dari itu, virus dan bakteri yang biasanya bisa dilawan orang dengan kondisi kesehatan normal justru berbahaya bagi pasien.

Dengan berada di rumah sakit, efek samping yang terjadi pun dapat segera ditangani pihak rumah sakit. Selain itu, sembari pemulihan diri berlangsung, pasien juga dipastikan menjaga kehigienisan diri. Mulai dari mandi, makan, hingga kebersihan ruangan, semuanya diperhatikan.

 

Setelah Transplantasi, Semuanya Selesai?

Ini menjadi hal penting. Perlu saya tekankan, meskipun hasil scan bersih, anehnya kondisi kaki saya yang pernah bengkak parah masih tak senormal sebelumnya. Dokter pernah mengatakan, kondisi kaki tersebut nanti akan dilihat lagi seusai transplantasi. Doakan semuanya baik-baik saja, ya!

 

Jadi, Kalau Keluar dari Rumah Sakit, Apakah Langsung Pulang ke Pontianak?

Inginnya begitu! Akan tetapi, kita saat ini dikejutkan dengan wabah covid-19. Malaysia di-lockdown hingga tanggal 14 April 2020 (setidaknya hingga saat artikel ini ditulis). Indonesia pun memperketat penerbangan. Jika ditanya kapan pulang, saya belum tahu. Semuanya tergantung situasi dan kondisi. Apalagi, sebagai pasien yang kekebalan tubuh (akan) pernah nol, tentunya saya harus berhati-hati.

Selain itu, seperti yang sudah saya jelaskan, kondisi kaki saya tak senormal yang dulu. Ada kemungkinan saya akan menjalani pemeriksaan lagi. Lagian, tak ada angin tak ada hujan, tak ada sel kanker pula yang terdeteksi, kenapa kaki saya malah masih aneh bin ajaib?

 

Stay Safe!

Sebagai tambahan, saya ingin membahas sedikit tentang novel coronavirus 2019. Virus ini memang sedikit-banyak berpengaruh pada kehidupan saya, seperti saat saya galau menjalani kemoterapi kedua, hingga saya harus berangkat H-1 sebelum lockdown. Data terbaru yang saya dapatkan dari Worldometers per tanggal 26 Maret 2020 menyebutkan bahwa sudah ada setidaknya 487.434 pasien di seluruh dunia (22.026 orang meninggal), 2.031 pasien di Malaysia (dengan 23 kematian), serta 893 kasus di Indonesia (dengan 78 kematian). Virus ini semakin hari semakin menyebar.

Artinya, kita sebagai masyarakat perlu untuk semakin berhati-hati. Virus covid-19 tidak seperti zombie yang kelihatan ingin menerkam. Ia sunyi senyap, tak kasatmata. Tahu-tahu, orang sudah terpapar. Jadi, cara terbaiknya adalah dengan menghindari aktivitas di luar ruangan sebisa mungkin.

 

Ada lagi hal penting yang perlu kita ingat:

  1. Cuci tangan sebelum menyentuh wajah dan sebelum makan. Gunakan 6 teknik mencuci tangan. Sabun merupakan metode paling efektif membunuh covid-19.
  2. Setelah bepergian dari luar rumah, segera mandi. Pakaian juga harus dicuci. Ingat, covid-19 dapat bertahan di benda mati untuk kurun waktu tertentu.
  3. Jika ada sabun dan air, gunakanlah! Tolong jangan borong alkohol swabs misalnya, hanya untuk membersihkan layar kaca smartphone. Saya sebagai salah satu pengguna rutin kapas beralkohol kecil mungil ini tahu bahwa banyak pasien yang benar-benar membutuhkannya.
  4. Sebisa mungkin, stay at home! Stay higiene! Stay safe!
  5. Terakhir, untuk menemani kegabutan sobat jika sedang stay at home, baca-baca isi blog saya saja! Dijamin semakin gabut, hehe …. Saya sendiri berusaha untuk tetap aktif meski harus berada di dalam kamar rumah sakit puluhan hari. Selain menulis keseharian dan pengalaman kanker, saya juga rajin mengikuti lomba blog  meski lebih banyak kalahnya.

 

[Untuk mendapatkan update terbaru kondisi kesehatan saya, bisa melalui blog saya, halaman galang dana KitaBisa, maupun akun instagram. Terima kasih!

About Me

Gadis kelahiran 2000 yang menjadi cancer survivor sejak usia 17 tahun. Karena tak tahu hingga kapan akan bertahan, ia pun mulai meninggalkan jejak-jejak berupa tulisan. Seluruh isi blog ini merupakan buah pikirannya.

What Are You Looking For?

What’s in My Blog?

Day by Day

Member of:

16 Comments

  1. Arthur Pendragon

    Selamat berjuang!!

    Reply
  2. Tissa

    Selamat ya vivi. Senang sekali melihat progressnya. Saya turut berbahagia

    Reply
    • Vivi Yunika

      Terima kasih sudah menemani perjuangan saya 🙂

      Reply
  3. Mia_yamashita

    Semoga lekas pulih dan sehat terus kak, aku juga pernah operasi tumor walau sudah diangkat tapi harus Tetep kontrol selama 3 tahun.
    Aku kaya orang yang hilang harapan but its okay not to be okay

    Reply
    • Vivi Yunika

      It’s okay, time will heal 🙂 thanks yaa

      Reply
  4. Hui Hui

    Tetap semangat..tiada mustahil bagi Tuhan Yesus

    Reply
    • Vivi Yunika

      Terima kasih Bu Hui.. Tuhan Yesus memberkati 🙂

      Reply
  5. Betsy Saloh

    Lekas sembuh ya Vi..dia ibu untukmu. Tuhan baik Vi..imani itu. Gbu

    Reply
    • Vivi Yunika

      Iya bu, terima kasih 😀 GBU too

      Reply
  6. MARS

    sehat terus Vivi !! cepat balik ponti ya

    Reply
  7. In-drink-ahh

    Vivi!!! Nama kontroversial 2020 ini, turut lega dan bahagia Vivi udah membaik, semoga terus sehat dan bisa seperti Vivi yg sediakala yoo!! Tapi tetap yg seinspiratif sekarangg, heyaaakk uda jadi influencer wkwkwk,, smangadd Vivi, sehat selalu, Tuhan Yesus memberkati <3

    Reply
    • Vivi Yunika

      Hahaha lol… Aku cuma suka nyorat-nyoret blog aja kok wkak

      Reply
  8. nafik barry

    Semangat semoga di berikan yang terbaik buat vivi yunita Dan terimah kasih untuk berbagi pengalamanya

    Reply

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pengalaman Tes Corona (COVID-19) - Vivi Yunika - […] saya tiba di Malaysia tanpa kekurangan apa pun. Pada tanggal 24 Maret 2020, saya melakukan PET scan agar tahu…
  2. Pengobatan Selesai! Pengalaman Transplantasi Sumsum Tulang Part 2 - Vivi Yunika - […] untuk mengetahui penyebaran sel kanker di tubuh. Ternyata, hasil scan menunjukkan bahwa tubuh saya sudah bebas dari sel kanker.…

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *