-As long as you’re still breathing, what’s the matter?-

Menu

Home

Contact

My Journey

Achievements

Sesungguhnya, Pengobatan Belum Selesai ….

Apr 29, 2020 | Daily Life, My Cancer Story

“Pengobatan sudah selesai. Saya sudah sembuh.”

Selalu itu yang saya ucapkan saat ada yang menanyakan bagaimana perkembangan kesehatan saya. Semua terdengar lebih simpel, mudah, dan tentunya indah. Padahal, pada kenyataannya, apa yang terjadi tak sesederhana itu.

 

Sekilas Mengenai Perjalanan Kankerku

Jika sobat mengikuti perkembangan perjalanan kanker saya, tentu sobat tahu bahwa saya merupakan pejuang kanker limfoma hodgkin. Saya sempat menjalani pengobatan kemoterapi sejak Mei 2019 hingga Desember 2019, tetapi mengalami relaps. Kondisi yang saat itu awalnya membaik, justru dikejutkan dengan penyebaran kanker secara mendadak.

Kala itu, saya direncanakan melakukan kemoterapi sebanyak 8 siklus. Satu siklus butuh 2 kali kemoterapi dengan rentang waktu 2 minggu sekali. Jadilah total kemoterapi seharusnya 16 kali. Usai menjalani kemoterapi kedelapan, saya melakukan PET scan. Hasilnya bagus. Sel kanker yang bersemayam di tubuh sudah jauh berkurang.

Setelah kemoterapi siklus ketujuh, atau bisa dihitung sebanyak 14 kali, kondisi saya memburuk. Saya pun kembali melakukan PET scan. Hasilnya? Sel kanker baru justru timbul di area leher, perut, hingga tulang. Kondisi yang kian parahnya membuat saya harus segera melakukan kemoterapi dosis tinggi disertai transplantasi sumsum tulang.

 

Pindah Rumah Sakit

Bila pada awalnya saya berobat di Kuching, maka saya pun segera diboyong ke Kuala Lumpur. Obat kemoterapi yang sebelumnya berjenis ABVD pun diganti menjadi ICE yang punya dosis 5 kali lipat lebih kuat. Sekali kemoterapi memakan waktu 4-5 hari. Jarak kemoterapi yang satu dengan kemoterapi selanjutnya yakni 3 minggu. Usai kemoterapi kedua, saya menjalani proses pengambilan sel induk.

Setelah proses tersebut, saya menjalani satu kali kemoterapi. Tiga minggu setelahnya, saya melakukan PET scan. Hasilnya kali ini bersih, yang artinya pengobatan saya berlangsung sukses. Saya pun menjalani kemoterapi terakhir selama seminggu penuh, dilanjutkan dengan proses memasukkan kembali sel induk (transplantasi).

Setelah melakukan proses transplantasi, saya dirawat inap selama sekitar 2 minggu. Tujuannya tak lain tak bukan untuk memastikan kondisi saya baik-baik saja, sebab proses transplantasi memang mengandung risiko dan efek samping. Setelah pulih, akhirnya saya diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Saya pun segera memperbarui kondisi kesehatan saya di media sosial dan blog.

 

Bertemu Kembali dengan Dokter

Sesungguhnya, kisah tak berhenti sampai di situ. Beberapa hari setelah saya bebas menghirup udara segar—meskipun ujung-ujungnya saya hanya berdiam diri di penginapan karena sedang marak virus covid-19 dan Malaysia saat itu sedang lockdown—saya diharuskan untuk melakukan pengecekan darah, sekaligus menemui dokter yang selama ini menangani saya di rumah sakit tersebut.

Hasil cek darah tersebut cukup baik. Leukosit (sel darah putih) saya sudah berada di batas normal, meskipun masih di ambang minimum. Sementara itu, sel darah merah dan hemoglobin saya masih sedikit kurang. Pantaslah saya mudah merasa letih dan pusing. Namun, hal tersebut merupakan hal yang wajar, sebab ‘pabrik’ pencipta sel-sel darah milik saya baru saja di-restart.

Walaupun hasil PET scan sudah bersih, nyatanya ada kemungkinan bahwa saya akan relaps. Artinya, bisa jadi suatu hari nanti sel kanker akan kembali ke tubuh saya. Kemungkinan tersebut cukup besar dikarenakan saya sudah pernah relaps sebelumnya. Angka kekambuhan pasien kanker limfoma hodgkin memang cukup besar, apalagi jika pernah mengalami kemoterapi dosis tinggi yang dilanjutkan dengan transplantasi sumsum tulang (dikutip dari ucapan Dokter Spesialis Hematologi Onkologi Medik RSCM, Dr dr Ikhwan Rinaldi, pada acara bertajuk Harapan Baru Bagi Pasien Kanker Limfoma Hodgkin dengan Terapi Inovatif di Jakarta, 2019). Tepat persis seperti pengobatan yang sudah saya jalani.

 

Pengobatan Tambahan?

Bukannya saya pesimis, tetapi saya hanya mencoba untuk realistis. Jatuh sakit, siapa sih yang mau? Namun, menggembar-gemborkan diri menjadi sehat seperti sedia kala juga saya rasa terlalu berlebihan. Kita tak pernah tahu tentang masa depan.

Oleh sebab itu, dokter menyarankan saya untuk melakukan pengobatan lanjutan. Sebelumnya, saat baru membuat rancangan transplantasi sumsum tulang, tak sekalipun dokter menjelaskan pengobatan lanjutan ini kepada saya. Semuanya murni baru saya ketahui di hari pengecekan darah tersebut.

Harapan tinggi saya untuk terbebas dari segala jenis pengobatan pun kembali pupus. Dokter menyebutkan, biasanya orang yang pernah relaps jauh lebih mudah terkena kanker lagi. Seandainya saya ingin mengurangi kemungkinan relaps kembali, maka sebaiknya saya melakukan imunoterapi.

Obat imunoterapi untuk limfoma hodgkin

Satu hal yang langsung hinggap di dalam hati saya: duitnya dari mana, cuy?!

Biaya yang diperlukan sangat besar, mencapai ratusan bahkan miliaran rupiah. Saya yang sebelumnya untuk kemoterapi belasan kali saja sudah keteteran, bahkan untuk transplantasi sudah harus membuka penggalangan dana, kini malah disodori suatu pengobatan yang biayanya bisa bikin nangis darah.

Lama pengobatan juga luar biasa. Ada 12 kali sesi imunoterapi dengan rentang waktu 3 minggu sekali. Imunoterapinya sendiri cukup singkat, satu sesi hanya memakan waktu sehari. Mari kita bermain matematika sedikit. Bayangkan, 12 jika dikali 3 maka menjadi 36. Satu bulan terdiri dari 4 minggu, jadi 36 dibagi 4 hasilnya adalah 9. Ya, butuh waktu 9 bulan untuk menyelesaikan rangkaian imunoterapi. Waktu yang sama seperti yang dibutuhkan ibu-ibu untuk hamil dan melahirkan anak.

Jujur, saya sudah cukup letih harus menghadapi semua ini semenjak tahun 2017 (meski hanya keluarga besar dan teman tertentu saja yang tahu). Saya sudah mengorbankan waktu setahun untuk menjalani kemoterapi. Tambahan 9 bulan lagi? Sebenarnya, jika ini wajib, saya mau tak mau memang harus dilakukan. Hanya saja, lagi-lagi semua terkendala dana. Saya hanya bisa berharap bahwa kondisi saya baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja.

Lagipula, bulan Juni mendatang saya akan melakukan PET scan lagi, dan saya tentu berharap hasilnya bersih (bebas dari sel kanker).

Masalah sepertinya muncul bertubi-tubi. Belum kelar masalah yang satu, timbul masalah yang lain. Saya sendiri ragu, apakah jadwal kontrol saya bisa terlaksana dengan baik. Seharusnya saya kontrol pada bulan Mei, malah ditunda ke bulan Juni—dan belum dapat dipastikan apakah nantinya akan ditunda lagi.

Saat ini kita ketahui sendiri, di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, sedang marak virus covid-19. Jika penerbangan ditutup, maka saya tidak bisa melakukan kontrol baik di Malaysia (jika lockdown) maupun di Indonesia (jika penerbangan domestik masih dihentikan). Saya sebagai seorang warga pun tak mampu berbuat apa-apa. Kecuali saya punya jet pribadi, mungkin lain cerita, hehe ….

Ah, tiba-tiba saya berpikir. Kapan, ya, Kalimantan Barat punya mesin PET scan sendiri?

 

Jadi?

Jujur, saya merasa tulisan saya ini sangat tidak terstruktur. Saya memang hanya menuliskan apa yang sedang mengalir dari benak saya, jauh berbeda jika saya menulis artikel untuk perlombaan. Namun, saya tak terlalu peduli. Intinya, saya berharap teman-teman bisa mengerti apa yang saya coba sampaikan. Saya akan melakukan PET scan lagi. Jika hasilnya masih bersih (harus!), maka saya tak akan menjalani imunoterapi. Lalu, jika hasilnya tak bersih, saya harus bagaimana …?

Entahlah. Kita lihat saja nanti.

About Me

Gadis kelahiran 2000 yang menjadi cancer survivor sejak usia 17 tahun. Karena tak tahu hingga kapan akan bertahan, ia pun mulai meninggalkan jejak-jejak berupa tulisan. Seluruh isi blog ini merupakan buah pikirannya.

What Are You Looking For?

What’s in My Blog?

Day by Day

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *